“Lalu pinggiran mushaf ada emas seberat 2,5 kilogram,” kata Bagus.
Ornamen dalam Mushaf Sundawi terinspirasi dari unsur budaya lokal Jawa Barat. “Kalau ini mamolo jadi inspirasi buat atas bingkai Mushaf Sundawi. Tiara masjid ini dari Cirebon,” ujarnya, merujuk pada bentuk hiasan arsitektur tradisional yang diadaptasi menjadi bingkai iluminasi.
Selain manuskrip, galeri juga menampilkan sejumlah alat produksi mushaf. “Ini ada juga alat-alat pembuatan Mushaf Sundawi-nya,” kata Bagus.
Baca Juga:Mengenang Masa Kecil di Masjid Agung Bandung, Wali Kota Ajak Lakukan Ini di Momen RamadanRamadan Momentum Disiplin: Farhan Bagikan Rutinitas Spiritual dan Fisik
Menurut dia, galeri dibuka setiap hari kerja dan menerima kunjungan rutin dari berbagai kalangan.
“Sebenarnya kita tuh setiap hari ada gitu. Terbuka untuk umum juga. Kita juga sebulan kan kadang bisa sampai tiga kali ada kunjungan dari sekolah ataupun lembaga,” ujarnya.
Namun, dia mengakui sosialisasi keberadaan galeri masih perlu ditingkatkan. “Mungkin dari itu aja sosialisasinya masih kurang. Dan di Al Jabbar juga ada cuman replikanya,” aku Bagus.
Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi mushaf, Mushaf Sundawi menjadi penanda upaya pemerintah daerah mendokumentasikan identitas lokal ke dalam karya tulis suci. Di dalam tiga peti kayu itu, teks Al-Qur’an dan estetika Tatar Sunda berkelindan dalam satu manuskrip besar yang disimpan di jantung Kota Bandung.
“Jadi, saya menyampaikan lagi, ini Galeri Mushaf Sundawi ini terbuka untuk umum bisa untuk sekolah ataupun lembaga. Kami buka dari Senin sampai Jumat sesuai jam kerja,” pungkasnya.
