JABAR EKSPRES – Masjid Agung Kota Bandung bukan sekadar tempat ibadah bagi Farhan, ia menyimpan kenangan masa kecil yang hangat. Kenangan masa kecilnya kerap tersimpan di balik kubah besar dan menara megah masjid ini.
“Dulu, setiap Jumat saya diajak ayah saya salat Jumat di sini. Setelah itu, biasanya kami lanjut ke Alun-Alun atau berbelanja kebutuhan Lebaran di kawasan Dalemkaum,” ujarnya mengenang.
Momen-momen sederhana itu, menurut Farhan, membentuk kedekatannya dengan masjid dan komunitas di sekitarnya.
Baca Juga:Masjid Al-Ukhuwah: Dari Tarawih Perdana hingga Beragam Aktivitas RamadanGelar Boosting Sales 2026, AK21 Group pilih Upgrade Karyawan Ditengah Kompetisi Bisnis
“Saya yakin kenangan seperti itu bukan hanya milik saya. Masjid ini punya nilai sejarah luar biasa bagi warga Bandung,” tambahnya.
Kenangan itu juga mengingatkannya pada pesan gurunya, KH Athian Ali, yang menekankan bahwa membangun rumah di surga bukan hanya soal mendirikan masjid, tetapi juga memakmurkannya.
“Rajin membersihkan, meramaikan, dan menghidupkan kegiatan ibadah di dalamnya. Ketika kita memakmurkan Masjid Agung ini, sesungguhnya kita sedang membangun rumah kita masing-masing di surga,” kata Farhan.
Semangat memakmurkan masjid itu terlihat nyata selama Ramadan. Farhan menjadwalkan buka puasa bersama secara bergilir dengan warga dari 30 kecamatan di Kota Bandung. Setiap hari, satu kecamatan diundang untuk bersilaturahmi di Masjid Agung, menghidupkan kembali tradisi kebersamaan yang sudah membekas sejak masa kecilnya.
Bagi Farhan, Masjid Agung Bandung bukan hanya landmark kota, tapi juga saksi perjalanan hidup dan jembatan untuk mempererat ukhuwah serta menebar kebaikan di bulan suci.
