JABAR EKSPRES – Psikolog dari Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Miryam Ariadne Sigarlaki, menyoroti kasus pembunuhan pelajar SMP Bandung berinisial ZAAQ (12) sebagai peringatan pentingnya penguatan kontrol emosi pada remaja.
Kasus yang melibatkan teman sebaya tersebut menjadi perhatian publik setelah penyidik mengungkap dugaan aksi penusukan dilakukan secara terencana.
Terduga pelaku YA (16) disebut membawa pisau dari kampung halamannya di Garut dan datang ke Bandung untuk menyerang korban. Aksi itu diduga dipicu rasa kecewa karena korban memutuskan hubungan pertemanan.
Baca Juga:Ini Fakta Terbaru Kasus Pembunuhan Siswa di Eks Kampung Gajah!Sakit Hati Jadi Pemicu, Detail Pembunuhan Remaja di Kampung Gajah Parongpong Terungkap
“Yang bisa kita pegang ini dari fakta hukum yang sudah disampaikan kepolisian jadi hanya sebatas hipotesa umum,” ungkap Miryam saat dihubungi, Selasa (17/2/2026).
Dalam kacamata psikologi, Miryam menjelaskan bahwa putusnya hubungan pertemanan pada remaja dapat memicu luka emosional yang cukup dalam. Perasaan malu dan marah bisa muncul, terlebih jika terus dipelihara oleh pikiran negatif yang berulang.
“Dalam psikologi, putus pertemanan ini bisa saja memicu luka secara psikologis. Malu, kemudian marah,” ujarnya.
“Pada sebagian remaja, emosi itu bisa menguat jika ada pikiran yang berulang-ulang. Rasa yang dipermalukan dengan pikiran-pikiran buruk yang menguatkan perasaan itu,” lanjut dia.
Menurutnya, pikiran yang berulang atau ruminasi dapat memperkuat emosi negatif hingga sulit dikendalikan. Dalam kondisi tersebut, remaja bisa melihat persoalan secara hitam-putih tanpa mempertimbangkan konsekuensi yang lebih luas.
“Kemudian itu bisa menjadikan seseorang ini kesulitan untuk meregulasi emosinya. Jadi dia hanya berpikir hitam putih saja tanpa mempertimbangkan beberapa hal. Ini bukan pembenaran tapi penjelasan mekanisme risiko,” kata dia.
Ia menambahkan, penolakan dalam relasi pertemanan seperti diputuskan, dijauhi, atau ditinggalkan bisa terasa sebagai ancaman terhadap identitas dan harga diri, terutama pada remaja yang sedang membentuk jati diri.
Baca Juga:Polisi Tangkap Pelaku Pembunuhan Pria di Parit Kebun PangalenganMayat Pria Tanpa Busana Ditemukan di Parit Kebun Pangalengan, Diduga Korban Pembunuhan
“Penolakan dalam relasi pertemanan seperti diputuskan, dijauhi, ditinggalkan, bisa terasa sebagai ancaman. Ancaman identitas dan harga diri. Terutama pada remaja yang sedang membentuk jati dirinya. Terjadi crisis identity,” ucapnya.
Miryam menegaskan, kekerasan tidak terjadi secara instan. Ada proses eskalasi emosi dari sedih, malu, merasa terhina, hingga berubah menjadi kemarahan yang tidak terolah. Ruminasi menjadi “jembatan” yang memberi makan emosi negatif.
