JABAR EKSPRES – Pos ronda tak sekadar menjadi tempat warga berjaga malam. Di Kampung Warung Cikopi, Desa Salebu, Kecamatan Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (2/10/2026) malam, tempat itu berubah menjadi ruang dialog antara polisi dan masyarakat.
Sekitar 70 warga bersama unsur pemerintahan dan tokoh masyarakat berkumpul dalam kegiatan Ngariung Kamtibmas yang digelar Polres Tasikmalaya. Pertemuan dimulai sekitar pukul 21.00 WIB dan berlangsung dalam suasana santai namun membahas persoalan keamanan dan ketertiban di lingkungan warga.
Kapolres Tasikmalaya AKBP Ade Papa Rihi mengatakan, pendekatan langsung dengan masyarakat penting dilakukan untuk mengetahui kondisi kamtibmas secara nyata hingga tingkat lingkungan terkecil.
Baca Juga:Pencarian Nelayan Cipatujah Masih Nihil, Tim Gabungan Terkendala Ombak BesarDua Nelayan Cipatujah Hilang, Perahu Terbalik Dihantam Ombak Besar
Menurutnya, menjaga keamanan bukan semata-mata tugas kepolisian. Peran warga, pemerintah desa, tokoh agama, pemuda hingga perangkat RT menjadi bagian penting dalam mendeteksi potensi gangguan sejak dini.
“Melalui kegiatan Ngariung Kamtibmas ini, kami ingin mempererat silaturahmi serta memperkuat koordinasi dengan unsur pemerintah daerah, Forkopimcam, kepala desa, dan seluruh lapisan masyarakat demi mewujudkan keamanan dan ketertiban yang berkelanjutan,” ujar Ade.
Ia menekankan, komunikasi yang terbangun secara langsung diharapkan membuat berbagai persoalan di tengah masyarakat tidak berkembang menjadi gangguan kamtibmas yang lebih besar.
Dalam kegiatan tersebut, hadir Kepala Desa Salebu Dede Tatang, Babinsa Koptu Dede Iip, Bhabinkamtibmas Bripka Ali Zayyin A.H., serta Kepala Dusun Juanda.
Sejumlah tokoh agama juga turut hadir, di antaranya pimpinan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Ajengan Ade Yayat dan Ustadz Dede Sunarya.
Diskusi juga melibatkan para ketua RT, yakni Ketua RT 05 Atang, RT 06 Kusdiana, RT 07 Aidah, dan RT 22 Kiki. Perwakilan Karang Taruna Desa Salebu, Dindin dan H. Adad, turut mengikuti pertemuan.
Bagi Polres Tasikmalaya, tradisi ngariung menjadi salah satu cara mendekatkan kepolisian dengan masyarakat. Dari forum sederhana di pos ronda, polisi dapat mendengar langsung persoalan yang dihadapi warga sekaligus memetakan potensi gangguan keamanan di tingkat lingkungan.
Baca Juga:ESDM Kebut Ekplorasi Migas, Imbas Desakan Geopolitik?Tak Gunakan Beras Fortifikasi, Bulog Sebut MBG Manfaatkan Beras Premium
Dengan komunikasi yang terbuka, berbagai persoalan diharapkan bisa diketahui lebih awal sehingga penanganannya dapat dilakukan bersama sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. (Hen)
