Sakit Hati Jadi Pemicu, Detail Pembunuhan Remaja di Kampung Gajah Parongpong Terungkap

Polres Cimahi saat Mengungkap Kasus Pembunuhan Terhadap Seorang Remaja di Eks Kampung Gajah, Parongpong
Polres Cimahi saat Mengungkap Kasus Pembunuhan Terhadap Seorang Remaja di Eks Kampung Gajah, Parongpong / Foto: Firman Satria/ Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kasus pembunuhan yang terjadi di kawasan eks Kampung Gajah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB), diduga dipicu oleh rasa sakit hati pelaku terhadap korban.

Konflik tersebut muncul setelah korban menyatakan keinginannya untuk mengakhiri pertemanan.

Hal itu diungkapkan Kapolres Cimahi, AKBP Niko Nurallah Adi Putra, saat konferensi pers di Mapolres Cimahi, Minggu, (15/2/26).

“Dua pelaku dengan inisial YA (eksekutor) dan AP telah kami amankan. Pelaku YA sempat mengajak AP untuk pergi ke Bandung pada hari Sabtu sebelumnya, namun ditolak karena AP memiliki pekerjaan sebagai dekorator pernikahan,” kata Niko.

Baca Juga:Meski Sulit, Tuntaskan di Bandung!Bojan Tak Menyerah! Persib Siap Balas Kekalahan di Leg Kedua

Ia menjelaskan, pada Senin berikutnya, kedua pelaku berangkat dari Garut menuju Bandung Barat. Mereka menunggu korban di sekitar SMP 26 Sukajadi sebelum waktu salat Asar.

“Kemudian, pada hari Senin, keduanya berangkat dari Garut dan menunggu korban di dekat SMP 26 Sukajadi sebelum waktu salat Ashar,” sambungnya.

Setelah bertemu, pelaku mengajak korban menuju kawasan eks Kampung Gajah dengan alasan ingin berbicara lebih serius karena lokasi awal dinilai terlalu ramai.

Dalam skema tersebut, tersangka AP menunggu di luar area dengan sepeda motor, sementara YA masuk bersama korban.

Sebelumnya, pelaku telah menyiapkan senjata tajam berupa sangkur yang dibawa dari Garut dan disimpan di jok motor.

“Setelah masuk ke dalam, terjadi percekcokan karena pelaku merasa sakit hati. YA langsung mengambil botol untuk memukuli kepala korban hingga jatuh, kemudian menusuknya delapan kali ke bagian perut,” jelas Niko.

Usai kejadian, pelaku mengambil telepon genggam dan jaket milik korban. YA kemudian memberi tahu AP dengan bahasa Sunda, “tos dipaehan yeuh” (sudah selesai).

Baca Juga:Strategi Gubernur Ahmad Luthfi Turut Sukseskan Program Prioritas Presiden Ramai Soal Reshuffle Kabinet Prabowo Siang Ini, Nama Juda Agung Menguat untuk Posisi Wamenkeu

Keduanya sempat mengisi bahan bakar sebelum kembali ke Garut. Berdasarkan pengakuan pelaku, korban ditinggalkan dalam kondisi masih hidup.

Kecurigaan muncul dari pihak keluarga korban karena korban tak kunjung pulang. Saat didatangi, pelaku sempat menyangkal pernah bertemu korban dan memberikan alibi palsu.

“Keluarga korban yang merasa curiga setelah korban tidak kembali mendatangi pelaku, yang pada awalnya menyangkal pernah bertemu dan memberikan alibi bohong,” ujar Niko.

0 Komentar