“Jembatan prosesnya juga bisa adanya ruminasi, pikiran yang berulang-ulang tentang ketidak adilan karena sudah dijauhkan membuat emosinya semakin liar dan itu terpelihara. Jadi kaya di feeding atau dikasih makan emosinya dengan pikiran tersebut,” ujarnya.
Dari kondisi itu, menurut dia, bisa muncul pembenaran internal terhadap kekerasan dan dorongan balas dendam.
“Sehingga dorongan balas dendam semakin masuk akal. Semakin yang dia pikirkan itu menjadi merasa benar. Dari ruminasi itu, kemudian pikirannya membenarkan tindak kekerasan, ‘dia pantas mati. Kalau tidak aku semakin dipermalukan’. Ini menurunkan kendali rem moral kita,” katanya.
Baca Juga:Ini Fakta Terbaru Kasus Pembunuhan Siswa di Eks Kampung Gajah!Sakit Hati Jadi Pemicu, Detail Pembunuhan Remaja di Kampung Gajah Parongpong Terungkap
Selain faktor internal, ia juga menyoroti faktor situasional seperti kesempatan bertemu di tempat sepi, akses terhadap benda berbahaya, dan atmosfer lingkungan yang memanas sebagai risiko tambahan.
“Kalau orang marah itu nular, jadi ketika semua situasional itu atmosfernya marah itu akan jadi satu peluang. Sehingga paparan kekerasan ini bisa terjadi,” katanya.
Menurut Miryam, tidak ada penyebab tunggal dalam tindak kekerasan remaja. Biasanya terdapat kombinasi antara kekecewaan relasi, lemahnya kontrol emosi, pikiran berulang, hingga adanya kesempatan.
“Tidak ada penyebab tunggal. Sampai pada tindak kekerasan tentu ini biasanya ada kombinasi. Selain rasa kecewa diputuskan pertemanan, secara internal kontrol emosinya lemah, mungkin ada obsesi, ada pemikiran yang berulang-ulang. Termasuk ada aspek kesempatan dan atmosfer yang mendukung tadi,” jelasnya.
Ia pun menekankan pentingnya peran sekolah dan orangtua dalam memperkuat keterampilan sosioemosional anak sebagai langkah pencegahan.
“Kuncinya, sekolah dan orangtua perlu memperkuat keterampilan sosioemosional pada anak anak. Kita bisa fokus pada pencegahan, bukan menghakimi,” kata Miryam.
Ia menyarankan agar setiap tanda ancaman kekerasan, obsesi balas dendam, atau perubahan perilaku drastis pada remaja segera ditangani dengan melibatkan sekolah, orangtua, maupun layanan psikologis.
Baca Juga:Polisi Tangkap Pelaku Pembunuhan Pria di Parit Kebun PangalenganMayat Pria Tanpa Busana Ditemukan di Parit Kebun Pangalengan, Diduga Korban Pembunuhan
“Kalau ada remaja yang menunjukan ancaman kekerasan, obsesi balas dendam yang inginnya dendam atau perubahan perilaku drstis, saran saya libatkan pihak sekolah, orangtua, atau kalau bisa layanan psikologis terdekat,” tandasnya. (Wit)
