JABAR EKSPRES – Ilham Darmawan, warga Langkap Lancar Kabupaten Pangandaran, meluapkan kekecewaan terhadap salah satu rumah sakit swasta di Kota Banjar setelah mendapati obat yang diterima ibunya, Yati Sumiati, diduga tidak sesuai diagnosis. Sang ibu yang merupakan pasien diabetes justru diberikan obat pengencer darah Clopidogrel Bisulfate.
Peristiwa ini terjadi awal pekan ini. Yati Sumiati menjalani pengobatan dan membawa pulang dua jenis obat. Selain Metformin yang lazim untuk diabetes, ia juga menerima Clopidogrel Bisulfate.
Ilham yang mencurigai obat tersebut langsung melakukan pengecekan dan memastikan obat itu adalah antiplatelet yang digunakan untuk mencegah stroke dan serangan jantung, bukan untuk terapi diabetes.
Baca Juga:Meski Sulit, Tuntaskan di Bandung!Bojan Tak Menyerah! Persib Siap Balas Kekalahan di Leg Kedua
“Untungnya belum diminum. Saya komplain ke pihak rumah sakit, dan mereka langsung mengganti,” ujar Ilham melalui sambungan telepon baru-baru ini.
Berdasarkan informasi dari literatur medis, Clopidogrel Bisulfate merupakan obat yang bekerja dengan cara mencegah penggumpalan trombosit.
Efek samping paling umum dari obat ini adalah perdarahan yang dapat berakibat fatal jika diberikan tanpa indikasi yang jelas . Pemberian obat ini kepada pasien diabetes tanpa riwayat penyakit kardiovaskuler berpotensi menimbulkan cedera serius.
Menurut Ilham, respons rumah sakit terbilang cepat. Obat langsung diganti, dan seorang pegawai rumah sakit bahkan datang ke rumahnya untuk meminta maaf secara langsung. Namun, di balik permintaan maaf itu, ia menyebut ada pesan yang justru membuatnya geram.
“Beberapa kali pegawai RS itu menyampaikan, kejadian ini jangan sampai diketahui oleh pihak media. Mereka memohon agar tidak diekspos,” kata Ilham.
Ilham menilai permintaan tersebut menunjukkan bahwa pihak rumah sakit lebih mementingkan citra dibanding evaluasi serius atas kesalahan medis yang nyaris terjadi. Ia khawatir kejadian serupa akan terulang pada pasien lain yang mungkin tidak memiliki keberanian atau pengetahuan untuk memprotes.
“Ini persoalan nyawa, jadi jangan main-main dan tidak boleh menganggap remeh. Kalau saya tidak protes, atau pasiennya awam dan asal minum obat, efeknya bakal separah apa? Lalu apakah pihak RS bakal inisiatif sendiri datang ke rumah saya untuk mengganti obat? Saya rasa tidak mungkin kalau tidak dikomplain,” tegasnya.
