JABAR EKSPRES – Thomas Djiwandono resmi dilantik menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Periode 2026-2031 di Kompleks Gedung Mahkamah Agung (MA), Jakarta, Senin.
“Saya berjanji bahwa saya akan melakukan tugas dan kewajiban Deputi Gubernur Bank Indonesia dengan sebaik-baiknya dan penuh rasa tanggung jawab,” ujarnya, dikutip Selasa (10/2/2026).
Mantan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) itu dilantik oleh Mahkamah Agung (MA) menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri dari jabatan Deputi Gubernur BI.
Baca Juga:Penonaktifan 11 Juta Peserta BPJS PBI Jadi Sorotan, Reaktivasi Sementara Butuh Rp15 Miliar?Sinergi Fiskal dan Moneter Baru Ala Thomas: Tak Lagi "Burden Sharing"
Dalam sumpahnya, Thomas berjanji tidak akan memberikan, menerima, maupun menjanjikan apapun dari dan kepada siapapun. “Saya berjanji bahwa saya akan setia terhadap negara, konstitusi, dan haluan negara. Kiranya Tuhan menolong saya,” imbuhnya.
Sebelumnya, terpilihnya keponakan Presiden Prabowo Subianto sebagai Deputi Gubernur BI sempat menjadi sorotan publik. Statusnya sebagai keponakan Presiden membuat publik mengira adanya intervensi dalam pencalonannya.
Dalam pencalonan Deputi Gubernur BI tersebut, terdapat tiga kandidat, yakni Dicky Kartikoyono yang merupakan Asisten Gubernur BI, Solikin M. Juhro yang merupakan kepala Departemen BI, dan Thomas Djiwandono sebagai Wamenkeu.
Thomas dengan pengalaman fiskalnya selama 1,5 tahun di Kementerian Keuangan, kemudian terpilih sebagai Deputi Gubernur BI dalam pencalonan tersebut.
Kemudian, fakta bahwa Thomas tidak memiliki pengalaman di bidang moneter menjadi sorotan utama publik. Mengingat, bank sentral merupakan pembuat kebijakan moneter.
Hal itu diakui Thomas dalam media briefing di Jakarta, Rabu (28/1) lalu. “Saya tidak memiliki pengalaman moneter, saya tidak bisa pungkiri. Tapi, saya memiliki kapabilitas yang lain, yang bisa melengkapi,” ujarnya.
“Sekali lagi, poin saya, saya nggak melihat itu (tidak memiliki pengalaman) sebagai sesuatu kekurangan. Kalau itu saya merasa kurang, saya lebih baik engga maju. Tapi saya merasa saya bisa,” kata Thomas.
Baca Juga:Ekonom Nilai Pemerintah Perlu Sediakan Lapangan Kerja Berkualitas, Kunci Pertumbuhan Ekonomi?Naik Kelas Jadi BUMN dengan Kinerja Solid, BSI Mengubah Peta Perbankan Indonesia
Thomas juga mengaku optimis menjadi Deputi Gubernur BI, sebab ia sempat mempelajari isu-isu moneter saat menempuh pendidikan magister Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional di School of Advanced International Studies, Johns Hopkins University.
Kendati begitu, fakta bahwa Thomas tidak memiliki pengalaman moneter menjadi kekhawatiran tersendiri bagi publik. Seperti disampaikan seorang warganet melalui cuitannya di X.
