Ekonom Nilai Pemerintah Perlu Sediakan Lapangan Kerja Berkualitas, Kunci Pertumbuhan Ekonomi?

Ekonom Nilai Pemerintah Perlu Sediakan Lapangan Kerja Berkualitas, Kunci Pertumbuhan Ekonomi?
Sejumlah calon pelamar kerja antre saat melamar pekerjaan di salah satu gerai cepat saji di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu (13/8). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Penyediaan lapangan kerja berkualitas oleh pemerintah dinilai sangat perlu dalam memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional. Itu disampaikan Senior Analyst NEXT Indonesia Center Sandy Pramuji di Jakarta, Minggu.

Menurutnya, memastikan pertumbuhan pendapatan rill merata dan lapangan kerja berkualitas menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan oleh pemerintah.

Hal itu, kata dia, mengingat daya beli masyarakat saat ini masih perlu ditingkatkan. Ia menyadari bahwa itu bukan karena tidak ada konsumsi, tapi pendapatan yang tidak merata dan sulitnya mencari lapangan kerja.

Baca Juga:OJK Yakin "Free Float" 15 Persen Tak Pengaruhi Peminat IPO, Benarkah?BI Jabar Sebut Ekonomi Tumbuh Tapi Pengangguran Meningkat, Kok Bisa?

“Tanpa penguatan (kedua) fondasi tersebut, masyarakat akan semakin berhati-hati dalam berbelanja, yang berpotensi membatasi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depannya,” ujarnya, dikutip Senin (9/2/2026).

Sandy menyampaikan bahwa daya beli masyarakat saat ini memang masih tumbuh dan terjaga, namun keinginan untuk berbelanja justru semakin tertahan.

Kondisi itu, lanjut dia, dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti meningkatnya tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, hingga kehati-hatian pascapandemi.

Bahkan, ia menilai masyarakat saat ini cenderung memprioritaskan keamanan finansial guna mengantisipasi kondisi perekonomian di masa mendatang, sehingga mereka menahan konsumsi.

Sandy menjelaskan, kondisi tersebut tercermin pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tetap stabil dan konsisten di kisaran 4,53 persen hingga 5,22 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada 2023-2024, serta bertahan pada level 4,98 persen pada 2025.

Angka tersebut mengindikasikan bahwa ekonomi domestik belum melemah dan permintaan domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Namun, upah riil pekerja mulai tertekan pada paruh kedua tahun lalu. Data pada Agustus 2025 menunjukkan kenaikan upah hanya sebesar 1,94 persen yoy, lebih rendah dibandingkan laju inflasi yang mencapai 2,31 persen yoy.

Baca Juga:Menkeu Buru Perusahaan Baja di Tangerang, Mangkir Pajak hingga Rp500 Miliar!DBL Academy Perkenalkan Basketball Clinic Pertama di Kepulauan Seribu

“Kondisi ini menyebabkan upah riil terkontraksi sekitar 0,37 persen, sebuah sinyal tertekannya daya beli, karena pendapatan tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan harga,” tutur Sandy.

Selain itu, penurunan gairah ekonomi tersebut juga terlihat dari Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) yang menurun dari 120,2 pada Juni 2025 menjadi 112,9 pada September 2025, sebelum pulih terbatas di akhir tahun kembali ke level 120,2 pada Desember 2025.

Ia menyampaikan, hal tersebut mengindikasikan bahwa penghasilan yang dirasakan rumah tangga mulai tergerus oleh kenaikan biaya hidup.

0 Komentar