JABAR EKSPRES – Jelang Ramadan 2026 atau 1447 Hijriah, Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, serta Perindustrian (Disdagkoperin) Kota Cimahi memastikan ketersediaan stok pangan dalam kondisi aman. Meski demikian, fluktuasi harga masih terjadi pada sejumlah komoditas strategis, terutama akibat meningkatnya permintaan dan faktor cuaca yang tidak menentu.
Kepala Bidang Perdagangan Disdagkoperin Cimahi, Indra Bagjana, menyebutkan bahwa pihaknya telah melakukan pemantauan dan memastikan pasokan bahan pokok tetap terjaga hingga awal Ramadan.
“Memang karena mekanisme pasar ketika ada permintaan cabai terutama dan kondisi cuaca yang tidak menentu ini juga sedikit menghambat,” ujar Indra saat dikonfirmasi via telepon, Selasa (10/6/26).
Baca Juga:Kurang Terawat, Halte Depan UIN Bandung Dinilai Tak NyamanVolume Sampah di TPS Pangaritan Tinggi, Petugas Bekerja hingga 12 Jam
Indra menegaskan, kondisi tersebut tidak sampai menimbulkan kelangkaan di pasaran. Namun, kenaikan harga sudah terpantau sejak sekitar sepekan terakhir melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).
“Pasar Cimindi kalau di Cimahi, ini memang cabai sudah mulai terlihat ada kenaikan tetapi memang masih dalam batas wajar, untuk yang tertinggi ada di cabe rawit merah dikisaran 70 ribu sampai 80 ribu,” tuturnya.
Menurut Indra, sejumlah komoditas memang tergolong sensitif terhadap perubahan harga, seperti cabai, bawang, daging ayam, telur ayam, hingga daging sapi. Meski daging sapi relatif lebih stabil, ia mengakui mulai muncul indikasi kenaikan harga.
Fenomena tersebut, lanjut Indra, tidak hanya terjadi di daerah, melainkan juga berskala nasional. Bahkan, di wilayah Jabodetabek sempat terjadi aksi mogok massal pedagang daging sapi. Namun, ia memastikan kondisi di Cimahi masih terkendali.
“Tapi memang ada sedikit kenaikan di kisaran 5 sampai 8 persen kenaikannya. Yang semula Rp125 ribu risampai Rp130 ribu per kg untuk sapi lokal sekarang di kisaran Rp140 ribu,” ujar Indra.
Sementara itu, untuk komoditas minyak goreng, Disdagkoperin Cimahi menilai situasinya relatif stabil. Pasalnya, harga minyak goreng masih mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET), dengan dukungan suplai khusus dari Bulog.
“Untuk Minyakita di patok Rp15.700 jadi untuk masyarakat diimbau kalau Minyakita dipengecer harganya diatas Rp15.700 itu sudah ada pelanggaran harga,” tegasnya.
Baca Juga:Cibiru Macet Tiap Hari, Pengendara Ngeluh: Menyusahkan!Harga Cabai Melambung Tinggi, Ibu Rumah Tangga di Bandung Timur Dipaksa Berhemat
Indra menambahkan, Kota Cimahi sempat masuk kategori zona merah untuk ketersediaan minyak goreng. Namun, kondisi tersebut kini berangsur membaik seiring masuknya pasokan dari Bulog.
