JABAR EKSPRES – Tahun 2026 diprediksi menjadi titik balik dalam dunia konten media sosial. Jika selama ini konten identik dengan visual rapi, editing halus, dan tampilan serba sempurna, ke depan justru gaya mentah, natural, dan terasa spontan akan semakin digemari audiens.
Perubahan selera penonton ini membuka peluang besar bagi lebih banyak kreator, termasuk mereka yang tidak terbiasa tampil “kamera-ready”. Bahkan, kreator dengan kepribadian introvert disebut-sebut memiliki kesempatan lebih luas untuk menembus FYP (For You Page) berkat tren konten autentik berbasis sudut pandang atau POV (point of view).
Salah satu kreator yang menyoroti perubahan tren ini adalah TikToker Victoria Wong. Ia memprediksi bahwa konten bergaya raw POV akan menjadi motor utama viralitas di berbagai platform pada tahun 2026.
Baca Juga:Ini Arti Kode A1, A2, A3, dan A4 di Info GTK Agar Tunjangan Tetap CairIni Daftar Bank Penyalur PKH Tahap Tahun 2026 1 yang Sudah Cairkan
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak audiens mulai merasa jenuh dengan konten yang terlalu “dipoles”. Video dengan pencahayaan sempurna, skrip kaku, dan editing berlapis kini tidak selalu menjadi jaminan engagement tinggi.
Sejumlah survei menunjukkan mayoritas audiens lebih menyukai kreator dan brand yang tampil jujur, relevan, dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Keaslian kini bukan hanya soal gaya visual, tetapi sudah menjadi fondasi kepercayaan (trust building) dan pembeda di tengah persaingan konten yang semakin padat.
Konten dengan ciri berikut justru dinilai lebih menarik:
- Video handheld yang sedikit goyang
- Audio tidak terlalu bersih
- Ekspresi canggung atau spontan
- Alur cepat tanpa banyak transisi halus
- Mini drama pendek dengan konflik sederhana
Semua elemen tersebut memberi kesan nyata dan tidak dibuat-buat.
Salah satu format yang diprediksi paling kuat di 2026 adalah POV (point of view). Dalam format ini, penonton dibuat seolah ikut masuk ke dalam cerita, bukan sekadar menjadi pengamat.
Pendekatan ini membuat video terasa lebih personal dan imersif. Ditambah dengan teknik editing cut-to-cut cepat tanpa banyak jeda, konten menjadi lebih intens dan tidak membosankan. Penonton tidak hanya menonton mereka merasa terlibat.
Di tren baru ini, karakter menjadi faktor paling krusial. Bukan soal kamera mahal atau set lokasi mewah, tetapi seberapa kuat persona yang dibangun kreator di mata audiens.
