Karakter yang unik, konsisten, dan relatable memiliki peluang viral lebih besar. Beberapa contoh karakter dan premis yang dinilai berpotensi naik antara lain:
- Introvert yang “terpaksa” jago bersosialisasi demi karier
- Gen Z yang alergi gaya jualan hard selling
- Dosen atau kepala keluarga yang tetap rajin workout di sela kesibukan
- Bos galak vs karyawan dalam format semi drama
- Agen properti review rumah dengan jingle unik
Karakter bukan sekadar gimmick, melainkan identitas konten yang membuat penonton mudah mengenali dan mengingat kreator.
Strategi Membuat Konten Sesuai Tren 2026
Bagi kreator yang ingin mengikuti gelombang tren ini, ada dua langkah utama yang bisa diterapkan:
Baca Juga:Ini Arti Kode A1, A2, A3, dan A4 di Info GTK Agar Tunjangan Tetap CairIni Daftar Bank Penyalur PKH Tahap Tahun 2026 1 yang Sudah Cairkan
1. Tentukan Karakter dan Premis
Gunakan formula sederhana: siapa + berperan sebagai apa + sisi uniknya.
Bangun cerita dari keseharian, konflik kecil, serta respons personal terhadap situasi tersebut.
Contoh: “Introvert yang kerja di dunia sales” atau “Orang pemalu yang jadi MC dadakan”.
2. Gunakan Pace Cepat dan Biarkan Tetap Raw
Gunakan potongan video cepat (cut-to-cut), minim jeda, dan tidak perlu terlalu banyak dipoles. Biarkan elemen natural tetap terlihat, seperti:
- Gerakan kamera tidak stabil
- Suara sekitar masuk
- Ekspresi kikuk
- Dialog spontan
Justru di situlah letak daya tariknya.
Jika tahun-tahun sebelumnya dipenuhi tren cinematic reels dan visual estetik, maka 2026 diperkirakan menjadi era kejujuran visual. Konten yang apa adanya, dekat dengan realita, dan kuat secara karakter akan lebih mudah mendapat perhatian algoritma maupun audiens.
Kabar baiknya, tren ini membuat dunia konten semakin inklusif. Kreator non-perfeksionis, pemula, hingga introvert punya panggung yang sama besarnya untuk viral bukan karena produksi mahal, tetapi karena cerita dan karakter yang terasa nyata.
