JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyiapkan langkah baru, guna merespons meningkatnya persoalan kesehatan mental di kalangan pelajar.
Pemerintah berencana melibatkan psikolog secara langsung di sekolah-sekolah, terutama pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP), sebagai bagian dari penguatan intervensi psikologis bagi siswa.
Langkah tersebut diambil menyusul temuan meningkatnya kasus gangguan emosional dan perilaku di lingkungan sekolah. Selama ini, penanganan persoalan psikologis siswa lebih banyak dibebankan kepada guru Bimbingan Konseling (BK).
Baca Juga:Di Tengah Tantangan Global, Industri Pengolahan Jadi Tulang Punggung Perekonomian Indonesia di 2025Bangkitkan Ekonomi, Pemerintah Siapkan Anggaran 6 Miliar Dollar untuk Industri Padat Karya
Anggota Majelis Psikolog Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jawa Barat sekaligus dosen psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba), M Ilmi Hatta, menilai kondisi kesehatan mental pelajar di Bandung sudah berada pada tahap mengkhawatirkan dan membutuhkan penanganan profesional.
“Di sekolah memang sudah ada guru BK, tapi kewenangannya terbatas. Untuk kasus-kasus tertentu yang cukup berat tidak bisa hanya ditangani guru BK. Harus ada psikolog yang turun langsung memberikan intervensi dan terapi kepada anak-anak yang bermasalah,” kata Ilmi baru-baru ini.
Menurut Ilmi, keterlibatan psikolog tidak hanya ditujukan untuk menangani siswa yang sudah menunjukkan gangguan mental, tetapi juga untuk memperkuat kapasitas guru BK sebagai garda terdepan di sekolah. Para psikolog akan dilibatkan secara aktif dalam mendampingi sekolah sekaligus memberikan pelatihan kepada guru BK.
“Guru BK nanti akan mendapat training. Jadi ketika menghadapi anak dengan masalah emosional atau perilaku, mereka sudah tahu harus berbuat apa, kapan perlu merujuk ke psikolog dan bagaimana mendampingi siswa secara tepat,” jelasnya.
Ilmi mengatakan, program ini sejalan dengan komitmen Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang sejak awal mendorong kehadiran psikolog di lingkungan sekolah.
Pemerintah berharap dengan pendampingan profesional, kondisi mental siswa dapat lebih terjaga sehingga berdampak pada kenyamanan dan kualitas proses belajar.
Tujuan akhirnya, kata Ilmi, adalah menciptakan lingkungan sekolah yang lebih sehat secara psikologis. Dengan kondisi mental yang lebih baik, siswa diharapkan merasa lebih sejahtera, lebih bahagia berada di sekolah, serta mampu berkonsentrasi dalam kegiatan belajar.
Baca Juga:Wamenaker Tekankan Budaya K3 sebagai Kunci Wujudkan Pekerjaan LayakOJK Soroti Risiko Digital dan Kripto, Perkuat Pengawasan Perbankan di Tengah Transformasi Global
Upaya penanganan kesehatan mental pelajar ini juga tidak hanya menyasar sekolah. Ilmi menekankan pentingnya peran keluarga, terutama orang tua, dalam menjaga kesehatan mental anak. Ia menyebut banyak persoalan psikologis anak yang berakar dari pola asuh dan lingkungan rumah.
