Menkeu: Kalau Saya di BI, Rupiah Rp15.000 per Dolar AS Adalah Hal Mudah

Menkeu: Kalau Saya di BI, Rupiah Rp15.000 per Dolar AS Adalah Hal Mudah
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa menguatkan nilai rupiah menjadi Rp15.000 per dolar AS bukan hal sulit. Foto: ANTARA
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Fluktuasi nilai tukar rupiah per dolar Amerika Serikat (AS) belakangan memang tengah menjadi sorotan, terlebih pada pekan terakhir di bulan Januari 2026, di mana kurs rupiah nyaris menyentuh Rp17.000 per dolar AS.

Merespons itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa meningkatkan nilai rupiah ke Rp15.000 per dolar AS bukan hal sulit baginya.

Hal itu disampaikan Menkeu dalam Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Jakarta, Selasa. Menurutnya, Bank Indonesia (BI) memiliki peluang untuk mendorong kurs rupiah menguat ke Rp15 ribu per dolar AS.

Baca Juga:OJK: Bareskrim Tak Kunjung Berikan Laporan soal "Saham Gorengan"Redenominasi Rupiah Tak Dilakukan dalam Waktu Dekat, Menkeu: Itu Kewenangan Bank Sentral

“Menurut saya, kalau rupiah bergerak ke sekitar Rp15.000 per dolar AS, itu tidak terlalu sulit. Saya tidak bisa berbicara mewakili bank sentral, tapi kalau saya di posisi mereka, level itu bukan sesuatu yang sulit dicapai,” paparnya, dikutip Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, BI memiliki peluang penguatan nilai tukar rupiah yakni melalui perbaikan fundamental ekonomi yang lebih cepat agar pertumbuhan dapat mencetak angka yang lebih tinggi.

Jika pertumbuhan ekonomi tinggi, kata dia, akan berpengaruh terhada tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggi pula, sehingga modal asing akan mengalir dengan sendirinya.

Menkeu menyebut bahwa investor asing ingin mengambil porsi keuntungan dari pertumbuhan ekonomi nasional. Sehingga ketika modal asing langsung (foreign direct investment/FDI) masuk, rupiah akan turut bergerak menguat.

“Ketika orang melihat saya bekerja serius memperbaiki kondisi ekonomi, dan ketika mereka mulai melihat ekonomi benar-benar membaik, modal akan masuk dan rupiah akan menguat hampir secara otomatis,” tuturnya.

Menkeu menambahkan nilai tukar rupiah saat ini tidak mencerminkan fundamental perekonomian Indonesia.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu, bergerak melemah 15 poin menjadi Rp16.769 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.754 per dolar AS pada penutupan perdagangan, Selasa.

Baca Juga:Kurs Rupiah Makin Memprihatinkan, Ekonom Sarankan Pemerintah Terbitkan Global BondMenkeu Optimis Kurs Rupiah Menguat Meski Nyaris Sentuh Rp17 Ribu: Tunggu Waktu Saja

Dia pun menyangsikan kondisi rupiah saat ini akan memicu krisis seperti tahun 1997-1998. Sebab, otoritas saat ini bergerak dengan selaras untuk menjaga level nilai tukar rupiah.

Selain BI yang memainkan peran utama, juga ada otoritas lain yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), di antaranya Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

0 Komentar