Kurs Rupiah Makin Memprihatinkan, Ekonom Sarankan Pemerintah Terbitkan Global Bond

Kurs Rupiah Makin Memprihatinkan, Ekonom Sarankan Pemerintah Terbitkan Global Bond
Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS yang hampir menembus Rp17 ribu memicu desakan penerbitan global bond. Foto: Pexels
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang hampir menembus Rp17 ribu masih menjadi sorotan publik. Bahkan Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mendorong pemerintah untuk menerbitkan global bond.

Menurutnya, penerbitan global bond secara tidak langsung dapat membantu Bank Indonesia (BI) menstabilkan kurs rupiah dan menjaga likuiditas dolar di dalam negeri.

“Saya sangat berharap, mudah-mudahan Kementerian Keuangan menambah issuance global bond,” ujarnya di Jakarta, dikutip Kamis (22/1/2026).

Baca Juga:Aturan "Admin Fee" untuk E-commerce Disiapkan, Upaya Lindungi UMKM?Cegah Double Counting, Anggaran MBG Bakal Dievaluasi Menkeu

Fakhrul berharap, pemerintah dapat menerbitkan global bond di atas 20 persen. Tak hanya untuk menjaga likuiditas rupiah dalam negeri, tapi sekaligus menambah likuiditas dari pasar global.

Dengan demikian, kata dia, ekonomi RI dapat terlindungi dari volatilitas jangka pendek yang memang perlu diantisipasi.

“Saya berharap up to 20 persen dari total funding pemerintah tahun ini. Kita butuh dukungan fiskal juga untuk menambah suplai dolar dalam negeri,” sambungnya.

Kemudian, ia juga menyarankan agar pemerintah menerbitkan global bond, baik dalam bentuk dolar maupun renminbi dalam jumlah yang lebih banyak.

Selain untuk menjaga likuiditas rupiah, kata dia, itu juga karena permintaannya masih tinggi dan penerbitannya akan berdampak positif terhadap cadangan devisa Indonesia.

Menurutnya, penerbitan global bond dolar juga sebaiknya dilakukan di dalam negeri. Hal ini merujuk beberapa kasus obligasi korporasi, di mana permintaan obligasi dolar AS dalam negeri tercatat tinggi. Strategi ini dipandang membantu menjaga dolar tetap berada di Indonesia.

Fakhrul juga mengingatkan, neraca perdagangan yang menghasilkan masuknya banyak dolar harus dikelola dengan baik agar tetap berada dalam sistem keuangan domestik. Jika tidak, dolar bisa mengalir ke luar negeri dan hal ini harus diantisipasi oleh pemerintah.

Baca Juga:Benarkan Pengunduran Diri Juda Agung sebagai Deputi Gubernur, BI Sudah Siapkan Rekomendasi Pengganti?Menkeu Optimis Kurs Rupiah Menguat Meski Nyaris Sentuh Rp17 Ribu: Tunggu Waktu Saja

Ia memperkirakan nilai tukar rupiah rata-rata pada tahun ini akan berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS. Hal ini ditopang oleh neraca perdagangan yang tetap positif dan cadangan devisa yang kuat, seiring meningkatnya pendapatan dari ekspor komoditas logam seperti timah dan nikel.

Terkait suku bunga acuan (BI-Rate) yang diputuskan tetap di level 4,75 persen pada bulan ini, ia memandang langkah bank sentral sudah tepat mengingat pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini hingga menyentuh level Rp16.900 per dolar AS.

0 Komentar