JABAR EKSPRES – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami pelemahan, bahkan per Selasa (20/1/2026), kurs rupiah nyaris menyentuh Rp17.000, tepatnya Rp16.981 pada pembukaan hari ini.
Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimis nilai tukar rupiah akan segera berbalik menguat.
“Tinggal tunggu waktu saja (kurs) rupiahnya menguat,” kata Purbaya di Jakarta, Senin (19/1).
Baca Juga:Kembali Torehkan Prestasi, BSI Raih Peringkat 1 Rating ESG Global Islamic BankingDemi Cetak SDM Unggul, Kementrans Bakal Luncurkan Beasiswa Patriot untuk 1.100 Mahasiswa
Menurutnya, kurs rupiah terhadap dolar akan segera menguat mengingat pergerakan rupiah bergantung pada fundamental ekonomi suatu negara.
Dalam konteks Indonesia, kinerja ekonomi diyakini bergerak resilien, salah satunya terlihat pada bursa saham.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin sore ditutup mencetak level tertinggi baru atau All Time High (ATH) ke posisi 9.133,87.
“IHSG All Time High, kan? Kalau indeks naik, pasti ada aliran asing masuk ke situ juga. Nggak mungkin masuk sendiri yang bisa mendorong ke level seperti itu,” jelasnya.
Selain itu, ia juga meyakini kurs rupiah terhadap dolar segera menguat, karena suplai dolar akan bertambah.
Kemudian, Menkeu juga menepis dugaan pelemahan rupiah terjadi akibat wacana penunjukan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Menurutnya, dugaan tersebut kemungkinan lahir dari kekhawatiwan publik bahwa bank sentral akan kehilangan independensi, jika salah satu jabatan petingginya diisi oleh mantan pejabat pemerintahan.
Baca Juga:Imbas Banjir Pekalongan, KAI Rugi hingga Rp3,5 Miliar!Ultimatum DPR RI Segera Bahas UU Ketenagakerjaan Baru, Buruh: Waktu Tersisa 9 Bulan!
“Orang berspekulasi ketika Thomas ke sana, independensi BI hilang. Saya pikir nggak akan begitu,” tegasnya.
Bendahara negara menyatakan akan terus menjaga fondasi ekonomi, termasuk mengakselerasi pertumbuhan, agar nilai tukar rupiah segera berbalik menguat.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Senin, bergerak melemah 68 poin atau 0,40 persen menjadi Rp16.955 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.887 per dolar AS.
Pengamat pasar mata uang dan aset digital Ibrahim Assuaibi menganggap pelemahan ini dipengaruhi ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump sebesar 10 persen terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana Washington mengakuisisi Greenland.
Pelemahan rupiah turut dipengaruhi keraguan para investor apakah Federal Reserve akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini.
