Pengangguran di Kabupaten Bogor Meningkat, Lulusan SMK Mendominasi

Pengangguran di Kabupaten Bogor Meningkat, Lulusan SMK Mendominasi
Ilustrasi pengangguran di Indonesia. (Foto: ANTARA)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Bogor meningkat. Pada 2024 lalu, angka TPT berada pada 7,34 persen dan pada 2025 naik menjadi 7,69 persen.

Melansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor, TPT didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

TPT pada Agustus 2025 disebut memiliki pola yang hampir sama dengan Agustus 2024 lalu. SMK masih mendominasi TPT dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya yaitu, 12,72 persen.

Baca Juga:Perkuat Kesiapan Nasional, Komisi XII Dukung Penguatan Kerja Sama Nuklir Indonesia dan AS 200 Pesepeda Siap Jelajahi Rute Menantang nan Indah di Jatim Lewat EJJ 2026

Sementara itu, TPT paling rendah berada pada tingkat tamatan lulusan perguruan tinggi sebesar 3,90 persen.

Pada TPT tingkat lulusan SMA mengalami kenaikan sebesar 0,89 poin dengan rincian tahun 2024 sebesar 9,54 persen menjadi 10,43 persen pada 2025.

Ketua Tim Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bogor, Retno Pangestuti Widianti menjelaskan pihaknya masih perlu mendiskusikan terkait TPT dengan analis BPS.

Ia melanjutkan, penyebab terjadi pengangguran dapat terjadi karena beberapa hal seperti banyaknya keinginan melankutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Selain itu, ia menilai, banyaknya pengangguran yang sudah tidak memiliki keinginan atau kehilangan untuk bekerja.

“Misalnya banyak yang senang sekolah, banyak yang melanjutkan pendidikan. Itu kan mereka juga nggak bisa dihitung sebagai angkatan kerja yang melanjutkan sekolah lebih tinggi itu engga bisa,” kata Retno, pada Selasa (3/2/2026).

“Bisa juga banyak pengangguran yang memang udah engga mau kerja itu banyak,” lanjutnya.

Baca Juga:Kemendag Sebut Integrasi Kakao ke Indeks Bloomberg Perkuat Daya Saing EksporPerkuat Eksosistem Halal, BPJPH Harap Usaha Besar Jadi Mitra UMK

Lebih jauh, Retno menambahkan adanya persaingan ketat hingga tingkat serapan tenaga kerja yang semakin turun pada sektor formal.

“Karena keterserapan di formal di lingkungan wilayah Kabupaten Bogor itu juga sudah semakin Bogor itu juga sudah semakin susah kecil biasanya orang semakin susah orang dapat kerja di sini,” jelasnya.

Adanya tenaga serapan tenaga kerja yang dinilai kecil pada sektor formal tersebut, dirinya menyarankan agar masyarakat melihat peluang lain di luar dari sektor formal.

Ia mengungkapkan, masyarakat dapat melakukan kegiatan padat karya maupun berwirausaha untuk memperoleh pendapatan hingga membuka lapangan pekerjaan.

Adapun, masyarakat dapat mengambil peluang untuk menjadi pekerja dinluar negeri atau pekerja migran.

“Berarti kan kita harus melihat ke yang lain ya. Apakah peluangnya keluar negeri? Pekerja migran? Atau itu tadi usaha-usaha memperbanyak, memperluas kesempatan mereka untuk bisa membuka usaha. Jadi entrepreneur,” pungkasnya.

0 Komentar