Terkait infrastruktur pendukung, Anton menyebutkan bahwa 23 titik shelter akan dikembangkan di wilayah Kota Cimahi. Sebagian besar merupakan shelter lama yang sebelumnya dikelola oleh Pemerintah Kota Cimahi dan kini akan direvitalisasi oleh pemerintah pusat.
“Shelter-shelter yang dikembangkan oleh kementerian mayoritas mengacu pada shelter yang sudah ada. Totalnya ada 23 titik di wilayah Cimahi,” katanya.
Shelter tersebut tersebar di ruas jalan dengan kewenangan berbeda, mulai dari jalan nasional, jalan provinsi, hingga jalan kota. Adapun titik-titik baru merupakan hasil kajian kementerian yang dinilai membutuhkan fasilitas pemberhentian tambahan.
Baca Juga:Dishub Cimahi Siapkan Integrasi Angkot dan BRT, Uji Coba Trayek Dimulai 2026Lewat Rekayasa Lalin dan Teknologi AI, Dishub Bandung Antisipasi Dampak Macet Proyek BRT
Namun demikian, Dishub Cimahi masih perlu melakukan pengecekan lapangan dan koordinasi lintas bidang, mengingat pengelolaan shelter tidak sepenuhnya berada di bawah satu unit kerja.
“Kami masih perlu memastikan mana shelter yang sudah ada dan mana yang akan dibangun baru oleh kementerian,” ujar Anton.
Anton memastikan, kehadiran BRT tidak akan secara signifikan mengganggu operasional angkutan umum yang sudah berjalan. Berdasarkan kajian teknis, sebagian besar trayek angkot di Cimahi hanya berhimpitan dengan jalur BRT dalam jarak pendek, rata-rata di bawah dua kilometer.
Ia mencontohkan titik pertemuan terpanjang berada di kawasan flyover Cimindi hingga sekitar Dinas Sosial Provinsi dekat Samsat Cimahi. Di titik itu, BRT dan angkot hanya berbagi lintasan sementara sebelum kembali berpisah.
“Setelah Dinsos, BRT lanjut ke barat, sementara angkot berputar balik ke arah Jalan Pesantren. Itu saja yang relatif panjang, selebihnya lebih pendek,” jelasnya.
Lebih jauh, Anton mengungkapkan adanya ketentuan integrasi dari pemerintah pusat terkait persentase lintasan yang berhimpitan dengan jalur BRT. Jika lebih dari 80 persen trayek angkot tumpang tindih dengan BRT, maka trayek tersebut harus diintegrasikan dan tidak lagi beroperasi secara terpisah.
“Trayek angkot itu akan diintegrasikan menjadi bagian dari BRT,” tegasnya.
Baca Juga:BRT Bandung Raya Disorot, Nasib Angkot dan Sopir Jadi Perhatian Utama40 Persen PKL Cicadas Tolak Relokasi Proyek BRT Bandung
Sementara itu, trayek dengan tingkat berhimpitan 20 hingga 80 persen akan dialihkan menjadi feeder. Sedangkan trayek yang hanya berhimpitan kurang dari 20 persen tetap beroperasi sebagai angkot, namun difungsikan sebagai pengumpan.
“Jalur feeder ini nanti akan dikaji ulang. Bisa menggunakan jalur lama, kombinasi beberapa trayek, atau bahkan jalur baru yang tidak berhimpitan sama sekali,” pungkas Anton. (Mong)
