JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai menyiapkan berbagai skenario pengaturan lalu lintas, menyusul dimulainya tahap pembangunan fisik jalur Bus Rapid Transit (BRT) yang diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap mobilitas kendaraan di pusat kota.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung menyebut, pembangunan BRT kini memasuki fase krusial, khususnya pada pengerjaan jalur khusus atau on corridor yang akan memakan sebagian ruas jalan utama.
Kepala Dishub Kota Bandung, Rasdian Setiadi, mengatakan bahwa dari rencana awal 20 rute BRT, saat ini hanya 18 rute yang akan direalisasikan.
Baca Juga:BRT Bandung Raya Disorot, Nasib Angkot dan Sopir Jadi Perhatian Utama40 Persen PKL Cicadas Tolak Relokasi Proyek BRT Bandung
“Total rute yang akan dijalankan ada 18,” kata Rasdian, Minggu (1/2/2026).
Dari jumlah tersebut, sekitar 21 kilometer akan dibangun sebagai jalur khusus BRT lengkap dengan separator fisik dan halte, menyerupai konsep jalur BRT di Jakarta.
“Kurang lebih 21 kilometer itu jalur khusus atau on corridor. Jadi memang ada lajur yang benar-benar dipisahkan,” jelasnya.
Rasdian menyampaikan, pengerjaan fisik jalur on corridor masih menunggu rampungnya proses kontrak dari Kementerian Perhubungan. Jika sesuai rencana, konstruksi akan mulai berjalan pada Februari ini.
“Informasinya kontrak selesai Februari, setelah itu pembangunan halte dan separator langsung dimulai,” ujarnya.
Dishub mengakui, aktivitas konstruksi tersebut berpotensi menimbulkan kemacetan, terutama di kawasan pusat kota yang menjadi lintasan jalur BRT.
“Pasti ada dampak lalu lintas, terutama saat pembangunan jalur dan halte. Itu yang sedang kami antisipasi,” kata Rasdian.
Baca Juga:BRT Bandung Raya: Solusi Tekan Kendaraan Pribadi atau Justru Tambah Beban Jalan?Alih-alih Pembangunan BRT, Pemkot Bandung Masih Berkutat pada Persoalan Parkir Liar di Bahu Jalan
Sejumlah ruas jalan utama yang akan terdampak pembangunan jalur khusus BRT diantaranya Jalan Sudirman, Rajawali, Pasir Koja, Otto Iskandardinata, Dewi Sartika, Banceuy, Naripan, Ahmad Yani, hingga Jalan Jakarta.
Untuk meminimalkan gangguan, Dishub Bandung akan menyiagakan petugas di lapangan serta melakukan koordinasi intensif dengan kepolisian dalam penerapan rekayasa lalu lintas.
“Nanti akan banyak petugas di titik-titik rawan, dan tentu kami akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk pengaturan arus kendaraan,” ujarnya.
Selain pengamanan di lapangan, Dishub juga berencana menggelar Forum Group Discussion (FGD) bersama Forum Lalu Lintas pada Februari ini. Forum tersebut akan membahas strategi penanganan dampak pembangunan BRT dalam jangka pendek, menengah, hingga panjang.
