KDM Ajak Warga Terlibat Penghijauan Lahan Bekas Longsor di Bandung Barat

Kondisi Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat
Kondisi Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, usai diterjang longsor/Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana memulihkan kawasan bekas longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dengan menjadikannya sebagai kawasan pengembangan hutan bambu dan kebun buah.

Rencana tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, usai meninjau lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Dedi menegaskan, proses penghijauan akan melibatkan warga sekitar tanpa mengganggu mata pencaharian mereka. Pemerintah, kata dia, telah menyiapkan skema kompensasi bagi masyarakat selama masa penanaman.

Baca Juga:Ramai Soal Reshuffle Kabinet Prabowo Siang Ini, Nama Juda Agung Menguat untuk Posisi WamenkeuLayvin Kurzawa, Jawaban Persib di Fase Paling Menentukan

“Untuk tanah milik Perhutani kami akan menghutankan tetapi proses menghutankannyan tidak akan mengganggu penghasilan warga. Jadi warga penggarapnya nanti dikasih pohon langsung ditanam. Satu bambu kedua tanaman hutan ketiga tanaman kebun (buah),” jelas Dedi.

Pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) itu menjelaskan, warga yang terlibat dalam proses penghijauan akan menerima upah harian sebagai bentuk kompensasi. Besaran upah disesuaikan dengan lokasi penanaman dan tingkat kesulitan medan.

“Selama proses tanam itu kurang lebih 4 tahun sampai kokoh mereka mendapatkan upah harian sebagai pekerja. Biasanya upah hariannya standar di kita di daerah yang dekat kampung itu Rp50 ribu,” jelas dia.

Ia menyebutkan, upah harian di wilayah yang dekat dengan permukiman berkisar Rp50 ribu per hari. Sementara untuk lokasi yang sulit dijangkau, seperti di puncak gunung, upah penanaman bisa mencapai Rp100 ribu per hari.

“Kalau sangat jauh dari kampung misal ke puncak gunung harus jalan biaya nanamnya itu bisa sampai 100 ribu per hari. Nanti tergantung wilayah,” tambahnya.

Menurut Dedi, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pemulihan lingkungan pascabencana longsor yang menelan puluhan korban jiwa. Ia menilai, bencana longsor di kawasan lereng Gunung Burangrang itu kuat diduga dipicu oleh alih fungsi lahan yang tidak terkendali.

Bencana longsor terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari, menerjang permukiman warga serta area perkebunan sayuran. Kawasan yang sebelumnya dipenuhi kebun dengan sistem tanam menggunakan plastik kini tertimbun material longsor.

0 Komentar