Menjaga Etika, Menghormati Hak Cipta
Disisi lain, Pianis Beno Binsar menegaskan D’Flash berusaha mendekati versi orisinal, bukan asal main. Sejak 2023, D’Flash sempat berganti personel hingga formasi solid terbentuk.
“Harus berlatih, mendengarkan beberapa kali, dihayati, baru dapat feel-nya,” ujarnya.
Soal hak cipta, D’Flash memilih taat aturan. Beberapa konten mereka di media sosial otomatis masuk manajemen Koes Plus.
“Pendapatan diserahkan ke sana. Aman,” kata Beno.
D’Flash, lanjut Beno, mereka mengandalkan panggung live sebagai ruang berekspresi sekaligus sumber pemasukan.
Baca Juga:DPRD KBB Fraksi PDI Perjuangan Kawal MBG Agar Berkualitas dan Tepat SasaranKritik PJU Berujung 'Undangan Klarifikasi', Warga Jabar Pertanyakan Ruang Aman Bersuara
Di luar itu, Beno menyimpan harapan besar untuk musisi muda. Menurutnya, meniru boleh, tapi berkarya adalah kunci bertahan di industri musik yang kini kian modern, bahkan bersentuhan dengan AI dan teknologi rekaman canggih.
“Saya berharap generasi muda punya karya sendiri,” katanya.
Kilat yang Bertahan
D’Flash mungkin lahir cepat, tapi pijakannya kuat. Di tengah industri musik yang serba cepat dan instan, mereka memilih setia pada akar.
Bukan untuk sekadar mengulang masa lalu, melainkan memastikan warisan Koes Plus terus menyala. Seperti kilat, D’Flash hadir singkat di pandangan, namun meninggalkan terang yang sulit dilupakan. (Mong)
