Pelemahan seperti ini, kata dia, biasanya terjadi saat kondisi pasar risk-off, terutama ketika ketidakpastian di Amerika Serikat belum jelas. Meski demikian, ia mencatat neraca perdagangan Indonesia cenderung surplus, yang menjadi penopang bagi rupiah.
Fakhrul pun memandang, rupiah kemungkinan bisa saja menembus di level Rp17.000 per dolar AS. Namun, hal ini terjadi hanya dalam jangka pendek dan tidak bertahan lama.
