Gelombang PHK Meningkat di 2025, Kemnaker Ungkap Ini Faktornya

Gelombang PHK Meningkat di 2025, Kemnaker Ungkap Faktornya
Sejumlah calon pelamar kerja antre saat melamar pekerjaan di salah satu gerai cepat saji di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu (13/8). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di tahun 2025 dinilai mengalami peningkatan signifikan, bahkan menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, jumlahnya mencapai 88.519 orang.

Merespons hal itu, Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Dirjen PHI Jamsos) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengungkap hal yang diduga menjadi faktor utamanya.

Menurutnya, salah satu penyebab tingginya angka PHK sepanjang 2025 kemarin dipengaruhi oleh tensi geopolitik pada awal tahun. Di mana hal itu diduga memengaruhi pelambatan ekspor dan impor, yang dampaknya terasa oleh industri dalam negeri.

Baca Juga:Efisiensi dan Teknologi Picu PHK, Angka Pengangguran Baru di Bandung Barat BertambahDorong Penguatan SDM, Legislator Minta Pemerintah Serius Tekan Pengangguran

“Pertama ada tekanan juga dari ekspor-impor, ya, itu pasti. Kondisi dunia di awal 2025 terutama sampai semester I masih ada dinamika cukup tinggi (di) geopolitik, pasti itu pengaruh ke ekspor,” ujarnya di Jakarta, dikutip Kamis (22/1/2026).

Berdasarkan data PHK yang dirilis Kemnaker periode Januari-Desember 2025, jumlah korban PHK tahun lalu mencapai 88.519 orang, meningkat lebih dari 10 ribu orang dibandingkan tahun 2024 di mana PHK menimpa 77.965 orang.

Adapun sebanyak 88.519 orang korban PHK tersebut merupakan pegawai yang terklasifikasi sebagai peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) BPJS Ketenagakerjaan.

Mengenai sektor yang paling banyak melakukan PHK tahun lalu, Indah mengatakan, industri manufaktur masih menjadi salah satu sektor yang terdampak cukup besar.

Ia pun mengakui bahwa isu PHK harus menjadi perhatian dan membutuhkan kerja sama strategis antara para pemangku kepentingan.

“Mengatasi PHK itu kan bukan cuma (tugas) Kementerian Ketenagakerjaan, banyak faktor yang menjadi pengaruh atau menjadi faktor penyebab PHK. Jadi pasti ada koordinasi dan kolaborasi bersama,” ujar Indah.

Lebih jauh, Indah mengatakan, pihaknya juga mengakselerasi program-program terkait untuk menekan angka PHK dan pengangguran, terutama mereka yang berada di usia produktif.

Baca Juga:Badai PHK Mengintai Pegawai di Tengah Proses Merger BUMN, Danantara Buka SuaraBI Jabar Sebut Ekonomi Tumbuh Tapi Pengangguran Meningkat, Kok Bisa?

“Ada Magang Nasional bagi para penganggur baru yang terdidik. Lalu kemudian pelatihan-pelatihan termasuk melibatkan serikat pekerja. Tadi Pak Menteri (Ketenagakerjaan, Yassierli) bilang akan dimasifkan di tahun ini, jadi upayanya ada,” kata dia.

0 Komentar