Kemarau Dua Bulan, Warga Kedunghalang Kelimpungan Cari Air Bersih

Salah satu warga RT 004/RW 007, Kelurahan Kedunghalang, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor yang menyetok air da
Salah satu warga RT 004/RW 007, Kelurahan Kedunghalang, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor yang menyetok air dalam beberapa ember atau wadah, Senin (13/7/2026). Foto: Sekar Andini
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Musim kemarau mulai berdampak pada ketersediaan air bersih di wilayah RT 004/RW 007, Kelurahan Kedunghalang, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor.

Ketua RT 004/RW 007 Kelurahan Kedunghalang, Anisah (55), mengatakan sebagian besar warga di wilayahnya masih bergantung pada sumber mata air alami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Air dari sumber tersebut ditampung terlebih dahulu dalam bak penampungan bersama, kemudian dialirkan melalui pipa yang terhubung ke masing-masing rumah warga.

Baca Juga:Dipulangkan karena Kenakalan, 8 Siswa SMP di Tasikmalaya Menolak Pindah SekolahPemkab Tasikmalaya Siap Dukung Sekolah Alam Hayati, DPUTRLH Buka Peluang Kolaborasi hingga Pendanaan

Namun sejak musim kemarau berlangsung dalam beberapa waktu terakhir, debit air dari sumber mata air alami tersebut mulai menurun akibat minimnya curah hujan.

Kondisi itu memaksa warga harus membatasi penggunaan air hingga mencari tambahan pasokan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Sekitar dua bulan yang lalu kecilnya. Kalau musim kemarau memang setiap tahun seperti ini, airnya surut. Jadi otomatis ke rumah-rumah warga berkurang, jadi kecil banget,” kata Anisah saat ditemui di Kedunghalang, Kota Bogor, Senin sore (13/7/2026).

Kondisi tersebut semakin sulit karena sebagian rumah warga menggunakan pompa listrik untuk menyedot air dari bak penampungan sumber mata air, sehingga aliran air ke rumah mereka menjadi lebih cepat dan lebih banyak.

Akibatnya, warga yang tidak memiliki pompa harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan air karena hanya mengandalkan aliran alami dari sumber mata air yang tersedia.

“Jadi yang enggak pakai setrum enggak kebagian lah. Harus nampung sendiri dari pipa manualnya,” katanya.

Anisah menjelaskan, untuk mengatasi kekurangan air saat debit air mengecil, dirinya bersama sejumlah warga memilih membeli air galon isi ulang sebagai tambahan pasokan.

Baca Juga:KNPI Kabupaten Tasikmalaya Tancap Gas, Digitalisasi UMKM dan Penciptaan Wirausaha Muda Jadi PrioritasBawa Nama Polda Jabar, Anggota Satlantas Polres Tasikmalaya Briptu Dhiva Persembahkan Emas Kapolri Cup 2026

Air isi ulang tersebut biasanya digunakan untuk kebutuhan memasak dan minum. Satu galon air isi ulang berkapasitas sekitar 18 liter dibanderol Rp6.000 dan dapat digunakan hingga dua hari.

“Kalau air kurang ya beli di galon. Rp6.000 satu galon. Itu buat masak, kopi, sama nasi, jadi lumayan buat nambah stok air. Soalnya kalau air dari mata air itu kan kecil banget ngalirnya, jadi dipakai terbatas, paling buat mandi, nyuci piring, sama nyuci baju. Itu juga harus dihemat-hemat,” ucapnya.

0 Komentar