JABAR EKSPRES – Musibah maut di area tambang emas Pongkor, Kabupaten Bogor, kembali membuka persoalan serius soal maraknya aktivitas tambang ilegal.
Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Sastra Winara, mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk mengusut tuntas insiden yang menewaskan tiga penambang tanpa izin tersebut.
Sastra menegaskan, aparat kepolisian harus bertindak tegas dan tidak membiarkan praktik penambangan ilegal terus terjadi di wilayah konsesi PT Antam Tbk.
Menurutnya, lemahnya pengawasan berpotensi memicu tragedi serupa di masa mendatang.
Baca Juga:Tragedi Tambang Ilegal Pongkor, Tiga Penambang Ditemukan Tewas di Kedalaman 500 MeterMisteri Asap di Tambang PT Antam Terkuak: 6 Orang Tewas
“Kami berharap kepada penegak hukum agar tidak ada pembiaran terhadap aktivitas penambangan ilegal. Ini harus dicegah sejak awal,” kata Sastra, Rabu (21/1/2026).
Ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa yang terjadi di wilayah Bogor Barat tersebut.
Sastra menyebut, Pemerintah Kabupaten Bogor perlu segera turun tangan mencari solusi terbaik agar keselamatan masyarakat tetap terjaga.
“Nanti kami minta pemerintah daerah untuk mencari solusi yang paling tepat,” ujarnya.
Terkait dugaan kebocoran gas dari area PT Antam, Sastra mengaku belum menerima laporan resmi dari pihak kepolisian.
Namun, ia menekankan bahwa jika ditemukan adanya pelanggaran atau kesalahan prosedur, APH wajib mengusutnya secara menyeluruh.
“Jika memang ada kesalahan prosedur, kami minta penegak hukum mengusut tuntas agar peristiwa seperti ini tidak terulang lagi,” tegasnya.
Baca Juga:Ini Alasan Pencarian Penambang Ilegal di Kawasan Antam Dihentikan SementaraDi Balik Klaim “Tak Ada Korban”, Belasan Penambang Tewas di dekat IUP PT Antam Pongkor Kabupaten Bogor
Sebelumnya, PT Antam Tbk memastikan bahwa ketiga korban jiwa bukan pegawai maupun kontraktor perusahaan.
Mereka merupakan penambang emas tanpa izin (PETI) yang beraktivitas di area nonoperasional perusahaan.
“Tim gabungan telah mengevakuasi tiga korban jiwa. Mereka terjebak di area nonoperasional Antam yang seharusnya steril dari aktivitas penambangan,” ujar CSR and Sub Division Head PT Antam Tbk UBPE Pongkor, Agustinus Toko Susetio.
Ketiga korban diketahui bernama Jaka (32), Edi (34), dan Isep Septiana (26), warga Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.
Mereka ditemukan meninggal dunia di kedalaman sekitar 500 meter dari permukaan tanah.
Agustinus menjelaskan, proses evakuasi berlangsung sangat sulit dan berisiko tinggi karena medan ekstrem serta kondisi lokasi yang berbahaya.
