JABAR EKSPRES – Misteri korban jiwa di area tambang dekat PT Antam, Pongkor, Kabupaten Bogor, perlahan terkuak. Fakta di lapangan menunjukkan jumlah korban meninggal dunia jauh lebih besar dari informasi awal yang disampaikan ke publik.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Doni Mardona Hutabarat, mengungkapkan berdasarkan keterangan warga, sedikitnya 10 penambang emas tanpa izin (PETI) dilaporkan meninggal dunia dan telah dimakamkan.
Sementara empat korban lainnya masih belum bisa dievakuasi karena kondisi lokasi tambang yang berbahaya.
Baca Juga:Misteri Asap di Tambang PT Antam Terkuak: 6 Orang TewasBeredar Kabar Penambang Tertimbun di IUP PT Antam, Forkopimda Kabupaten Bogor Segera Lakukan Pemeriksaan
“Empat jiwa masih berada di dalam karena lokasi sempit dan kadar gas karbon monoksida (CO) masih di atas ambang aman,” kata Doni saat dihubungi, Minggu (18/1) malam.
Doni merinci, para korban berasal dari tiga desa di wilayah Bogor Barat. Enam orang berasal dari Desa Cimapag Hilir, Kecamatan Cigudeg, dua orang dari Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, serta enam orang dari Desa Urug, Kecamatan Sukajaya.
Menurutnya, tragedi ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak, terutama perusahaan dan pemerintah daerah, agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi ke masyarakat.
“Pemerintah dan ANTAM tidak boleh langsung menyatakan tidak ada korban sebelum investigasi tuntas. Korban tidak selalu karyawan, bisa juga warga,” tegas Doni.
Sebelumnya, dua warga Kampung Urug, Desa Urug, dinyatakan meninggal dunia dan telah dimakamkan. Namun keluarga memastikan jumlah korban lebih banyak dari itu.
“Baru dua yang datang dan dimakamkan, masih ada empat lagi,” ujar Puput (31), istri almarhum Edi Saputra, di kediamannya.
Puput mengaku terpukul, ia menyebut tidak ada firasat buruk sebelum suaminya berpamitan bekerja ke gunung.
Baca Juga:Tertimbun di IUP PT Antam, Camat Nanggung: Asap Tebal Sebabkan Terjebaknya PenambangPolisi Selidiki Kabar Penambang Emas Tertimbun di Area Antam Nanggung, Informasi Masih Belum Pasti
“Katanya cuma dua hari. Tidak ada firasat apa-apa,” ucapnya.
Harapan menyambut kepulangan sang suami sirna setelah kabar duka datang dari rekan kerja Edi.
Di lokasi yang sama, Acip Supendi, orang tua sekaligus kakak ipar korban bernama Jaka, menjelaskan para penambang berangkat bersama 11 orang menuju kawasan gunung. Dari jumlah tersebut, enam orang warga Kampung Urug dinyatakan meninggal dunia.
“Masih ada empat yang belum dievakuasi, semuanya warga Urug,” katanya.
