Meski tidak terbukti memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi secara umum, kelompok rentan tetap perlu mendapat perhatian khusus.
“Dari resiko fatal tidak terbukti keparahan lebih tinggi, namun bagi orang-orang yang memiliki penyakit komorbid atau penyerta termasuk kepada balita, lansia dan ibu hamil bisa saja terjadi hal yang berat,” sebutnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi meminta masyarakat untuk tidak bereaksi berlebihan menyikapi istilah super flu yang belakangan ramai diperbincangkan.
Baca Juga:"Super Flu" Memakan Korban di Bandung, 1 Pasien RSHS MeninggalKasus Superflu di Jawa Barat Dipastikan Reda, Warga Tak Perlu Khawatir
Ia menegaskan, sebutan super flu sejatinya bukan istilah medis, sehingga tidak perlu memicu kepanikan di tengah masyarakat.
Vini menjelaskan, istilah tersebut muncul dari penyebutan awam terhadap influenza yang masa sakitnya cenderung lebih panjang dibandingkan flu pada umumnya.
Penjelasan ini disampaikan untuk meluruskan berbagai informasi yang beredar agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang tepat.
“Sebenarnya istilah super flu itu bukan istilah medis. Di dunia medis, ini adalah influenza tipe A varian H3N2,” ujar Vini.
Menurutnya, flu biasa umumnya bisa mereda dalam waktu tiga hingga empat hari. Sementara itu, influenza tipe A H3N2 dapat berlangsung lebih lama, sehingga kemudian dikenal masyarakat sebagai super flu.
Meski begitu, lanjut Vini, penyakit ini bersifat self-limited atau dapat sembuh dengan sendirinya, terutama jika daya tahan tubuh dalam kondisi baik.
“Masyarakat tidak perlu khawatir karena sifatnya sama seperti flu lainnya dan tidak separah COVID-19,” katanya.
Baca Juga:Ancaman Superflu Mengintai, Dinkes Cimahi Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan dan PHBSSuper Flu Subclade K Menyebar, Bandung Tingkatkan Kewaspadaan
Vini juga memastikan, tingkat fatalitas influenza tipe A H3N2 jauh lebih rendah dibandingkan COVID-19. Hingga saat ini, tidak ada laporan kematian akibat virus tersebut di Jawa Barat.
Berdasarkan data yang telah dikonfirmasi ke Kementerian Kesehatan, tercatat sebanyak 10 kasus influenza tipe A H3N2 di Jawa Barat pada periode Agustus hingga Oktober 2025.
“Dari Agustus sampai Oktober ada sepuluh kasus, dan semuanya sudah sembuh,” ujar Vini.
Ia menambahkan, tren kasus kini terus menurun dan tidak ditemukan lagi pasien terkonfirmasi yang harus menjalani perawatan di rumah sakit. Meski demikian, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit penyerta tetap diminta meningkatkan kewaspadaan.
