JABAR EKSPRES – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mempercepat peningkatan produksi minyak nasional sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi dan menjaga stabilitas pasokan di tengah dinamika geopolitik global.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan pemerintah saat ini memprioritaskan optimalisasi produksi dan penguatan cadangan strategis minyak nasional guna memastikan keamanan energi jangka menengah dan panjang.
“Sebagai antisipasi, kami terus meningkatkan cadangan strategis minyak nasional, optimalisasi produksi,” kata Anggia, dikutip dari ANTARA, Rabu (7/1).
Baca Juga:Stok Jagung Indonesia Aman, Impor Dihentikan dan Peluang Ekspor TerbukaTransaksi Harbolnas 2025 Capai Rp36,4 Triliun, Mendag: Alami Kenaikan hingga 17 Persen
Upaya peningkatan produksi dilakukan melalui pemanfaatan teknologi lanjutan di sektor hulu migas, seperti fracking, enhanced oil recovery (EOR), hydraulic fracturing, serta horizontal drilling untuk memaksimalkan potensi lapangan migas yang sudah ada.
Selain aspek teknis, pemerintah juga mendorong reformasi fiskal, percepatan perizinan, serta peningkatan investasi eksplorasi di wilayah frontier untuk menarik minat investor hulu migas.
Peningkatan produksi juga diupayakan pemerintah melalui reaktivitas 4.500 sumur idle.
“Kondisi ini (situasi Venezuela) terus dipantau,” ucap Anggia.
Menurut Anggia, dinamika global, termasuk perkembangan politik di sejumlah negara produsen minyak, tetap menjadi perhatian pemerintah. Namun, hingga saat ini pasokan dan harga bahan bakar minyak (BBM) domestik masih berada dalam kondisi stabil.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan pemerintah belum melihat dampak langsung dari situasi Venezuela terhadap pasokan maupun harga BBM saat ini.
“Kita sumber crude-nya itu bukan dari saja. Jadi dari wilayah lain. Jadi masih stabil,” kata Laode.
Ia juga menambahkan, pemerintah tetap melakukan langkah antisipasi dan pemantauan perkembangan situasi, termasuk potensi dampaknya terhadap harga minyak dunia.
“Antisipasi itu selalu ada,” ujarnya.
