JABAR EKSPRES – Indonesia menorehkan capaian penting di sektor pangan dengan berhasil mencapai swasembada jagung.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pasokan jagung nasional mencukupi seluruh kebutuhan dalam negeri, sehingga pemerintah memutuskan untuk tidak membuka keran impor pada 2026.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa produksi dan stok jagung nasional saat ini berada pada level yang kuat dan berkelanjutan.
Baca Juga:Transaksi Harbolnas 2025 Capai Rp36,4 Triliun, Mendag: Alami Kenaikan hingga 17 Persen Peluang Besar UMK, 1,35 Juta Sertifikat Halal Gratis Disiapkan BPJPH pada 2026
“Dengan kondisi stok dan produksi saat ini, pemerintah sepakat tidak perlu melakukan impor jagung pada 2026, baik untuk pangan, benih, maupun konsumsi rumah tangga,” kata Ketut dikutip dari ANTARA, Rabu (7/1).
Menurut data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung pipilan kering berkadar air 14 persen sepanjang 2025 mencapai 16,11 juta ton. Angka tersebut mencerminkan penguatan produksi dalam negeri.
Sementara, konsumsi Jagung Pipilan kering (JPK) 14 persen selama 2025 berada di kisaran 15,64 juta ton. Dengan produksi yang melampaui kebutuhan, terdapat surplus sekitar 0,47 juta ton.
“Surplus produksi dan pengelolaan pasokan yang terjaga mendorong terbentuknya stok akhir tahun yang solid,” ujarnya.
Berdasarkan Neraca Pangan Nasional, stok jagung yang dibawa dari 2025 ke 2026 (carry over) mencapai sekitar 4,5 juta ton, cukup untuk memenuhi hampir tiga bulan kebutuhan nasional yang rata-rata 1,4 juta ton per bulan.
Menurutnya, stok carry over yang kuat menjadi penanda Indonesia pada 2025 telah berada dalam kondisi swasembada jagung. Sepanjang tahun, kebutuhan jagung pakan dapat dipenuhi tanpa ketergantungan impor. Produksi petani dalam negeri menjadi tulang punggung pasokan kebutuhan dalam negeri.
Keberhasilan ini menjadi landasan utama kebijakan jagung nasional pada 2026. Pemerintah menilai pasokan domestik sudah memadai untuk menjaga keseimbangan pasar dan stabilitas harga.
Baca Juga:Sistem Distribusi Siap Sejak Awal Tahun 2026, Petani Langsung Tebus Pupuk SubsidiCetat Rekor Tertinggi, Penyaluran Dana FLPP Capai 278.868 Rumah
Pada 2026, produksi jagung nasional diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 18 juta ton. Dengan proyeksi tersebut, stok akhir tahun diperkirakan tetap terjaga di kisaran 4,5 juta ton, mencerminkan kesinambungan antara produksi, konsumsi, dan cadangan nasional.
Pemerintah juga menilai posisi tersebut cukup aman untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga. Penguatan produksi dalam negeri juga membuka peluang ekspor. Pada 2026, ekspor jagung diperkirakan bisa mencapai sekitar 52,9 ribu ton.
