JABAR EKSPRES – Petani sayuran di Kabupaten Bandung Barat (KBB), mulai merasakan dampak terbatasnya pasokan air selama musim kemarau terhadap hasil panen dan harga komoditas.
Kondisi itu salah satunya dirasakan petani di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang. Keterbatasan air membuat pertumbuhan sejumlah tanaman hortikultura tidak optimal sehingga produksi yang dihasilkan petani ikut berkurang.
Petani Lembang, Wilarto, mengatakan kondisi tersebut mulai terlihat pada sejumlah sayuran daun yang mengalami kenaikan harga. Beberapa di antaranya yakni selada keriting, romen, dan sawi.
Baca Juga:Permintaan Sayur di Lembang Anjlok, Omzet Pedagang Turun hingga 60 PersenRibuan Orang Berkumpul di Alun-Alun Cimahi, Doa Hujan Dipanjatkan di Tengah Kemarau Panjang
“Harga sayuran dedaunan sekarang memang sedang naik. Romen sekitar Rp12 ribu, sedangkan selada sekitar Rp7 ribu,” ujar Wilarto, Selasa (29/9/2026).
Menurut dia, harga romen bahkan sempat menyentuh Rp15 ribu. Sementara harga sawi saat ini berada di kisaran Rp3.500 hingga Rp5 ribu.
Wilarto menjelaskan, kenaikan harga tersebut tidak terlepas dari berkurangnya hasil produksi petani. Tanaman yang kekurangan air tidak dapat tumbuh secara optimal sehingga jumlah sayuran yang dipanen menjadi lebih sedikit.
“Produksinya tidak maksimal karena kurang air. Barangnya jadi sedikit, akhirnya harganya naik,” katanya.
Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Harga tomat ceri justru turun cukup tajam dibandingkan sebelumnya.
Saat ini, tomat ceri di tingkat petani hanya berada di kisaran Rp1.500 per kilogram. Padahal, komoditas tersebut sebelumnya sempat menembus harga lebih dari Rp15 ribu per kilogram.
“Kalau tomat ceri sekarang malah turun, sekitar Rp1.500. Sebelumnya pernah di atas Rp15 ribu,” ungkapnya.
Baca Juga:Kemarau Panjang, Debit Air Waduk Saguling Anjlok DrastisImbas Kemarau Panjang, Produksi Ikan di Bandung Barat Anjlok 902 Ton
Kondisi serupa juga mulai dirasakan petani di Kecamatan Cisarua. Salah seorang petani, Cepi, mengatakan keterbatasan air membuat petani harus lebih cermat mengatur kebutuhan penyiraman tanaman agar produksi tetap berjalan.
“Air sekarang harus diatur, terutama untuk tanaman yang membutuhkan banyak air. Kalau penyiramannya kurang, pertumbuhan tanaman pasti terganggu dan hasilnya tidak maksimal,” kata Cepi.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat petani harus menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air. Selain menjaga tanaman yang sudah ditanam, petani juga perlu memperhitungkan risiko sebelum kembali menanam komoditas yang membutuhkan banyak air.
