JABAR EKSPRES – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Cimahi menyoroti kerentanan sektor transportasi terhadap penyalahgunaan zat adiktif oleh pengemudi angkutan umum.
Isu ini dinilai krusial karena berkaitan langsung dengan keselamatan penumpang dan pengguna jalan lainnya, di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat pada akhir tahun.
Kepala BNN Kota Cimahi, Yulius Amra, mengatakan pihaknya terlibat aktif dalam rangkaian pengamanan Nataru melalui kegiatan pemeriksaan urin terhadap para pengemudi.
Baca Juga:Dari Bupati Termuda hingga OTT KPK, Ade Kuswara Kunang di Pusaran Dugaan Korupsi BekasiOTT KPK Seret Oknum Jaksa dan Pengacara di Bekasi, Dugaan Korupsi Berjamaah Menguat
Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan kondisi pengemudi benar-benar sehat, baik secara jasmani maupun rohani, sebelum mengemudikan kendaraan.
“BNN membantu dalam kegiatan pemeriksaan urin kepada para pengemudi, apakah betul-betul sehat dalam mengemudikan kendaraan. Jangan sampai terjadi kecelakaan karena pengemudi menggunakan zat narkotika atau bahan lain yang bisa membahayakan dirinya sendiri, penumpang, maupun orang lain,” kata Yulius saat dikonfirmasi, Jum’at (19/12/25).
Menurut dia, penggunaan narkotika atau zat adiktif lain saat mengemudi berpotensi besar mengganggu konsentrasi dan refleks pengemudi.
Karena itu, BNN menekankan pentingnya pencegahan sejak dini agar pengemudi tidak bekerja di bawah pengaruh zat berbahaya.
Dalam setiap kegiatan pemeriksaan, BNN Cimahi memang masih menemukan indikasi penyalahgunaan, meski bukan narkotika jenis berat.
“Biasanya ada beberapa yang ditemukan, tapi kebanyakan menggunakan obat-obatan tertentu, bukan narkotika. Kalau untuk narkotika sejauh ini belum begitu ditemukan,” ujarnya.
Yulius menjelaskan, keterbatasan sarana menjadi tantangan tersendiri dalam upaya deteksi yang lebih menyeluruh.
Baca Juga:Terungkap! KPK OTT 9 Orang Sebelum Segel Ruang Kerja Bupati BekasiKPK Perluas Penyidikan di Bekasi, Kantor Disbudpora Ikut Disegel
Hingga kini, BNN Kota Cimahi belum memiliki anjing pelacak narkotika, padahal peran alat tersebut dinilai penting, terutama untuk memeriksa kendaraan besar seperti truk atau kendaraan lintas kota dan lintas pulau.
“Harusnya memang ada anjing pelacak untuk melacak narkotika. Kami khawatir narkotika dibawa oleh truk atau kendaraan lain. Kalau kendaraan penumpang lintas kota atau lintas pulau, itu rawan, sering ditemukan modus penyelundupan,” ungkapnya.
Tanpa dukungan alat tersebut, BNN sangat bergantung pada informasi dari masyarakat. “Kalau tidak ada informasi, kita tidak tahu. Padahal seharusnya dalam kegiatan ini ada anjing pelacak yang bisa mencium kendaraan umum maupun kendaraan penumpang lain,” katanya.
