Plt Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Barantin, Drama Panca Putra, menekankan bahwa ketertelusuran dan sanitasi menjadi syarat mutlak dalam ekspor durian beku ke Tiongkok.
“Traceability menjadi kunci. Kami memastikan seluruh proses memenuhi standar higienitas agar produk bebas dari cemaran kimia, biologi, dan logam berat,” ujarnya.
Saat ini, delapan rumah pengemasan telah ditetapkan sebagai Instalasi Karantina Tumbuhan (IKT) dan terdaftar dalam sistem China Import Food Enterprise Registration.
Baca Juga:Ekspor Tanaman Hias ke AS Dongkrak Ekonomi Petani Bandung BaratModus Penghindaran Bea Keluar Meningkat, Menkeu Soroti Celah Pengawasan Ekspor
Produk yang diekspor meliputi daging durian (pulp), pasta (puree), dan durian utuh beku, yang dibekukan dengan metode quick freezing pada suhu minimal minus 30 derajat Celsius.
Dari sisi pelaku usaha, ekspor langsung ke Tiongkok dinilai memberikan efisiensi biaya logistik yang signifikan. Pemilik PT Zarafa Ridho Lestari, Muchlido Apriliastmen, mengaku biaya pengiriman kini jauh lebih kompetitif.
“Sebelumnya kami harus lewat Thailand dengan biaya sekitar 18 ribu dolar AS per kontainer. Sekarang cukup 10–11 ribu dolar AS. Ada penghematan sekitar 8 ribu dolar AS per kontainer,” katanya.
Peluang pasar pun terbuka lebar. Sekretaris Jenderal Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (Apdurin), Aditya Pradewo, menyebut nilai pasar durian Tiongkok mencapai 8 miliar dolar AS atau sekitar Rp128 triliun per tahun.
“Dengan varietas unggulan seperti Bawor, Super Tembaga, dan Namlung, kami optimistis Indonesia bisa merebut 5 sampai 10 persen pasar. Potensi devisanya bisa mencapai Rp6,4 triliun hingga Rp12,8 triliun per tahun,” pungkasnya.
