JABAR EKSPRES – Berubahnya struktur bangunan Gedung Sate di bagian depan alias gapura, saat ini tengah menjadi perbincangan di berbagai elemen masyarakat, termasuk sorotan oleh DPRD Provinsi Jawa Barat.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Maulana Yusuf Erwinsyah mempertanyakan, arah kebijakan kebudayaan Jabar di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi (KDM).
“Saya menilai, kebijakan kebudayaan Pemprov Jabar lebih menonjolkan pembangunan fisik bernuansa estetika, daripada upaya merawat warisan sejarah yang memiliki nilai kebudayaan autentik,” katanya kepada Jabar Ekspres, Jumat (21/11).
Baca Juga:Pertumbuhan Kredit Diklaim Bisa Double Digit di Januari 2026, Efek Suntikan Dana Rp76 Triliun?Tolak Legalkan Thrifting, Purbaya: Saya Gak Peduli sama Pedagangnya!
Diketahui, Kantor Gubernur Jawa Barat yang juga menjadi ikon bersejarah di Kota Bandung, kini nampak berbeda dengan tampilan baru. Suasana area tersebut terlihat berubah dengan hadirnya unsur-unsur kebudayaan Sunda yang kini semakin menonjol.
Perubahan paling mencolok terlihat di area pintu masuk. Gapura lama yang selama ini berdiri sebagai jalur keluar-masuk, sekarang sudah dibongkar dan dibangun ulang, dengan konsep kebudayaan Sunda serta sentuhan material terakota yang khas.
Melalui informasi yang dihimpun Jabar Ekspres, konsep arsitektur gapura baru Kantor Gubernur Jabar itu, menggabungkan unsur tradisi dan modernitas.
Desainnya mengangkat elemen Candi Bentar, yang sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari lanskap bangunan Gedung Sate.
Elemen Candi Bentar dinilai Pemprov Jabar bukan sekadar ornamen, tetapi simbol historis yang hidup di berbagai keraton di Jawa Barat.
Dalam hal ini, Maulana mempertanyakan, sebenarnya kebudayaan apa yang ingin diangkat oleh Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi.
“Ideologi kebudayaan apa yang bisa dibuktikan dengan dibangunnya gapura dan gerbang-gerbang yang seolah-olah merepresentasikan bangunan Sunda?” bebernya.
Baca Juga:Nasib IKN Usai HGU Jangka Panjang Dibatalkan, Airlangga: Tetap Sesuai RencanaPerry Buka Ruang Pemangkasan BI-Rate Meski Turun Berkali-kali: Ada Dua Pertimbangan
Maulana menegaskan, esensi pelestarian budaya bukan pada penciptaan bangunan baru yang sekadar bernuansa “Sunda”, tetapi pada merawat jejak sejarah yang sudah ada seperti situs cagar budaya.
“Menjaga kebudayaan yang berarti adalah menjaga bangunan dan cagar budaya yang menyimpan sejarah lama. Di situlah nilai kebudayaan Sunda berada,” tegasnya.
“Saya mengingatkan bahwa Jawa Barat memiliki lebih dari 50 situs cagar budaya, yang memerlukan perhatian dan perawatan, bukan sekadar proyek simbolik yang menelan anggaran besar,” pungkas Maulana. (Bas)
