JABAR EKSPRES – Cuaca ekstrem memperparah pergerakan tanah yang kembali aktif di Desa Cintaasih, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Bencana yang meluas di tujuh titik permukiman itu merusak 32 rumah dan 108 jiwa kini berada dalam kondisi waspada.
Sekadar diketahui, pergerakan tanah tersebut terjadi di sejumlah kampung di dua dusun, yakni Kampung Pasir Salam RT 03/08, Kampung Gadung RT 01/09, Kampung Genteng RT 02/02, Kampung Cikupa RT 03/08, Kampung Pasir Koneng RT 03/08, Kampung Cijeruk RT 04/04, dan Kampung Cigedong RT 01/03.
Data BPBD KBB mencatat, sebanyak 38 kepala keluarga (KK) terdampak langsung akibat kerusakan bangunan maupun potensi longsor susulan.
Baca Juga:Bencana Pergerakan Tanah di Rongga KBB Makin Parah, 60 KK Harus MengungsiMitigasi Pergerakan Tanah di Cimahi, BPBD Ungkap Ini Penyebabnya
Kepala Pelaksana BPBD KBB, Asep Sehabudin, mengatakan laporan awal dari pemerintah desa diterima pada 11 November 2025. Namun hasil asesmen menunjukkan bahwa aktivitas pergerakan tanah di wilayah tersebut bukan merupakan kejadian baru.
“Fenomena ini sudah berlangsung sejak tahun 2020 dan setiap musim hujan selalu menunjukkan perkembangan yang semakin memprihatinkan. Rumah yang dulu sudah ada yang hancur, sekarang banyak retakan pada dinding dan lantai. Kalau rumah panggung, sudah miring,” kata Asep saat dikonfirmasi, Senin (17/11/2025).
Ia menjelaskan, perubahan kontur tanah yang terus bergerak membuat sejumlah bangunan tidak lagi layak huni. Retakan panjang muncul pada lantai rumah, dinding pecah, hingga fondasi yang amblas. Kondisi tersebut diperburuk oleh topografi Desa Cintaasih yang berbukit dengan kemiringan lereng curam.
Kajian Badan Geologi pada 2022 juga menegaskan bahwa area pergerakan tanah itu tidak layak dijadikan permukiman permanen. Selain tanah yang labil, curah hujan tinggi dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan risiko longsor dan runtuhan tanah.
“Rekomendasinya jelas: kawasan ini harus direlokasi. Secara geologi, daerah tersebut memang tidak aman untuk permukiman,” tegasnya.
Meski demikian, belum seluruh warga meninggalkan rumah. Sebagian memilih bertahan sambil terus memantau kondisi, meskipun saat hujan deras mereka mengungsi ke kantor desa atau rumah kerabat.
“Kami sudah menyalurkan bantuan logistik dan membuka posko siaga untuk memantau perkembangan bencana,” ujarnya.
Baca Juga:Ini Pemicu Terjadinya Longsor di Pesantren Atthohiriyah Bandung Barat!Usai Longsor, Badan Geologi Rekomendasikan Relokasi Ponpes dan Madrasah di Bandung Barat
Asep memastikan opsi relokasi permanen akan dibahas lebih lanjut bersama pemerintah daerah dan instansi terkait. Langkah tersebut membutuhkan kajian lokasi baru, kesiapan lahan, serta dukungan anggaran yang memadai.
