JABAR EKSPRES – Sejumlah wilayah di Kota Bogor mulai mengalami kekurangan air bersih akibat mengeringnya sumur warga dan berkurangnya debit sumber mata air alami imbas kondisi cuaca kemarau yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Sebelumnya, kekurangan air bersih dilaporkan terjadi di wilayah RT 004/RW 007, Kelurahan Kedunghalang, Kecamatan Bogor Utara, pada Senin (13/7/2026). Kondisi tersebut berdampak terhadap sekitar 50 kepala keluarga (KK).
Pada hari yang sama, kondisi serupa juga terjadi di RT 001/RW 012, Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat. Di wilayah tersebut, sekitar 90 KK atau 300 jiwa terdampak akibat berkurangnya ketersediaan air bersih.
Baca Juga:Kapolres Tasikmalaya Pererat Soliditas dengan Kodim 0612, Komitmen Jaga Keamanan Wilayah BersamaKapolres Tasikmalaya Pererat Soliditas dengan Kodim 0612, Komitmen Jaga Keamanan Wilayah Bersama
Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan berkoordinasi dengan Perumda Tirta Pakuan untuk mengecek kembali ketersediaan jaringan air perpipaan di seluruh wilayah Kota Bogor, terkhususnya di wilayah-wilayah yang mulai terdampak kekurangan air bersih.
Persoalan kekurangan air bersih, kata Jenal, tidak hanya berkaitan dengan menurunnya sumber air tanah akibat cuaca kemarau, tetapi juga belum meratanya akses masyarakat terhadap layanan air bersih melalui jaringan perpipaan.
Saat ini, cakupan layanan jaringan air perpipaan Perumda Tirta Pakuan di Kota Bogor disebut sudah mencapai sekitar 60 persen dari target layanan berdasarkan Sustainable Development Goals (SDGs) mencapai 90 persen.
“Antisipasinya adalah ketika ada kekeringan air bawah tanah atau air sumur, maka masyarakat menggunakan pelayanan air minum yang ada melalui Perumda Tirta Pakuan. Stok volume air kita hari ini masih berlebih, masih cukup untuk memenuhi sekitar 80 persen warga Bogor. Tinggal memang jaringannya yang belum tersedia sepenuhnya,” kata Jenal di Balai Kota Bogor, Selasa (14/7/2026).
“Kami akan cek di sejumlah wilayah terdampak, apakah sudah ada pasokan jaringan air perpipaan Perumda Tirta Pakuan atau belum. Ketika memang belum, saya harap harus menjadikan target perluasan jaringan berikutnya,” tambahnya.
Selain itu, Jenal pun turut meminta jajaran wilayah, mulai dari lurah hingga camat untuk lebih proaktif memantau dan melaporkan titik-titik yang mulai mengalami kekurangan air bersih.
“Untuk aparat wilayah, lurah, camat, saya harap proaktif mencari informasi titik mana yang kekeringan karena pemerintah harus hadir, harus memberikan solusi, baik jangka pendek maupun jangka panjang,” katanya.
