Ini Pemicu Terjadinya Longsor di Pesantren Atthohiriyah Bandung Barat!

Longsor di Pesantren Atthohiriyah Dipicu Aktivitas Pemotongan Lereng
Petugas BPBD KBB tengah meninjau lokasi longsor. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pergerakan tanah yang menyebabkan longsor di Pesantren Atthohiriyah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terjadi akibat kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia.

Badan Geologi mencatat pemotongan lereng curam untuk pembangunan turut mempercepat terjadinya bencana tersebut.

Berdasarkan hasil kajian, lokasi bencana berada di perbukitan dengan kemiringan lereng curam antara 17 hingga 24 derajat, bahkan mencapai lebih dari 33 derajat akibat pemotongan lereng untuk pembangunan pondok pesantren

Baca Juga:Ciamis Kembali Jadi Percontohan Nasional, Rombongan dari Kalimantan Datang Belajar Kelola SampahTimur Kapadze Siap Tangani Timnas Indonesia, Negosiasi Disebut Sudah di Tahap Akhir

“Kawasan ini memang rawan bila curah hujan meningkat dan kondisi lereng tidak diperkuat,” kata Plh Kepala Badan Geologi, Priatin Hadi Wijaya, dalam keterangan resminya.

Sebelum longsor terjadi, warga sempat melaporkan munculnya rembesan air di sekitar pondok.

Menurut Priatin, rembesan itu keluar dari kontak antara tanah pelapukan dan batuan dasar yang kemudian memperlemah kestabilan lereng.

Air tanah di lokasi tersebut berada pada kedalaman sekitar lima meter dari permukaan. Dari hasil pemetaan, wilayah Desa Cinengah masuk dalam zona kerentanan gerakan tanah menengah.

“Pada zona ini, gerakan tanah dapat terjadi jika curah hujan melebihi normal atau jika lereng terganggu akibat aktivitas manusia,” jelasnya.

Badan Geologi menemukan lapisan tanah pelapukan setebal dua meter di bagian atas dengan lapisan batulempung di bawahnya yang berfungsi sebagai bidang gelincir.

Kondisi ini diperburuk oleh sistem drainase yang buruk dan keberadaan mata air di sekitar lereng.

Baca Juga:Piala Dunia 2026 Panggung Terakhir Cristiano Ronaldo!Ivar Jenner dan Rafael Struick Targetkan Emas SEA Games 2025

Priatin menjelaskan, mekanisme longsor diawali dengan akumulasi air di bidang kontak antara tanah pelapukan dan batulempung. Tekanan air yang meningkat menyebabkan daya ikat tanah berkurang sehingga material bergerak menuruni lereng dan menimpa bangunan di bawahnya.

“Faktor manusia dan kondisi geologi yang lemah saling memperparah risiko longsor di wilayah ini,” tuturnya.

Gerakan tanah yang terjadi berbentuk longsoran rotasional dengan arah pergerakan ke barat daya. Lebar mahkota longsoran mencapai 15 meter dan panjang landaan sekitar 35 meter.

Akibat bencana yang terjadi pada Sabtu (26/10/2025) sore itu, satu orang meninggal dunia, satu bangunan hancur, empat bangunan rusak, dan satu bangunan lainnya terancam.

0 Komentar