JABAR EKSPRES – Hasil kajian Badan Geologi menunjukkan gerakan tanah di Desa Cinengah, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB), termasuk tipe rotasional cepat dengan potensi longsor susulan tinggi.
Karena itu, dua bangunan pendidikan di lokasi tersebut direkomendasikan untuk direlokasi ke tempat yang lebih aman.
Rekomendasi itu disampaikan setelah tim Badan Geologi melakukan peninjauan lapangan pascalongsor yang menimbun sebagian bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Attohiriyah dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Mubarkah.
Baca Juga:BTN Housingpreneur 2025 Buka Akses Inovator Muda ke Ekosistem Perumahan NasionalDorong Aglomerasi Solo Raya, Gubernur Ahmad Luthfi Raih Penghargaan Cita Loka Fest 2025!
Diketahui, peristiwa longsor tersebut menyebabkan kerusakan parah pada bangunan tempat santri mondok serta empat ruang kelas madrasah.
Material tanah dari tebing yang ambrol menghantam dan menyeret bangunan hingga seluruh ruang kelas roboh. Seorang santriwati berusia 15 tahun dilaporkan meninggal dunia akibat tertimbun longsor.
Plh Kepala Badan Geologi, Priatin Hadi Wijaya, menjelaskan hasil pemeriksaan lapangan menunjukkan gerakan tanah di lokasi dipicu oleh akumulasi air pada bidang kontak antara tanah pelapukan dan batulempung. Kondisi itu meningkatkan tekanan pori serta mengurangi daya ikat tanah, ditambah kemiringan lereng yang curam.
“Akumulasi air tersebut meningkatkan tekanan pori dan mengurangi daya ikat tanah. Ditambah kemiringan lereng yang curam, material akhirnya bergerak menuruni lereng dan menimpa bangunan yang berdiri terlalu dekat,” ujar Priatin dalam keterangan tertulisnya.
Dari hasil kajian, Badan Geologi menyimpulkan kawasan tersebut berada dalam zona kerentanan gerakan tanah menengah, dengan potensi bencana susulan masih tinggi mengingat curah hujan di wilayah itu cukup intens.
“Bangunan yang rusak sebaiknya tidak digunakan kembali dan direlokasi ke lokasi yang lebih aman. Warga terdampak juga disarankan mengungsi sementara waktu untuk menghindari risiko longsor susulan,” tegasnya.
Selain itu, masyarakat sekitar diminta tetap waspada terutama saat hujan deras. Aktivitas pertanian di sekitar kaki longsoran masih dapat dilakukan, namun harus disertai kewaspadaan terhadap kemungkinan pergerakan tanah.
Baca Juga:Jangkau 706 Desa, Program Speling Ahmad Luthfi  Bisa Diterapkan Secara Nasional!Irjen Pol Rudi Setiawan Resmi Menyandang Gelar Doktor di UNAIR
Badan Geologi memastikan akan terus memantau perkembangan kondisi di kawasan rawan tersebut untuk mencegah terulangnya bencana serupa.
Priatin juga menekankan pentingnya penerapan kaidah keteknikan dalam setiap pemotongan lereng serta menjaga jarak aman antara bangunan dan tebing.
