Hajat Lembur jadi Denyut Nadi Pariwisata Desa Mekarlaksana, Cerita dari Perbatasan Bandung-Garut

TRADISI : Desty dan Kharisma saat mengiringi perjalanan Kirab Budaya dalam Hajat Lembur Tegalhareueus Desa Mek
TRADISI : Desty dan Kharisma saat mengiringi perjalanan Kirab Budaya dalam Hajat Lembur Tegalhareueus Desa Mekarlaksana, Sabtu (11/10). (Hendrik)
0 Komentar

Gunawan menambahkan, geliat ekonomi warga itu bisa dilihat dari beberapa aspek. Pertama adalah para pemilik homestay. Sedikitnya ada 50 homstay di kampung tersebut. Ketika ada yang menginap, tentu itu menjadi pendapatan tambahan bagi warga.

Saat menginap, wisatawan biasanya juga pesan makan. Itu juga disediakan warga. Sehingga makin menambah pundi-pundi pendapatan. Terkadang ada juga yang pesan makanan dalam skala besar karena untuk kegiatan bersama. Ini bisa menjadi ladang pendapatan baru bagi warga untuk usaha katering.

Pundi-pundi berikutnya adalah warga yang memiliki kendaran atau mobil. Biasanya bus besar agak sulit jika masuk ke area perkampungan. Karena itu bus besar akan diparkir di area yang telah disediakan. Lalu wisatawan diangkut menggunakan mobil-mobil milik warga.

Baca Juga:Yayasan Kasih Palestina Siap Bangun Kembali Masjid Istiqlal Indonesia di GazaBabatuRun 2025: Saat Lari Jadi Bahasa Kebaikan di Kota Bandung

Ada gula ada semut. Wisatawan yang berdatangan butuh jajan. Hal itu memacu warga untuk membuka usaha baru yakni berjualan. Baik makanan ringan maupun minuman. “Dulu tidak banyak warung atau orang jual jajanan, kini mulai tumbuh di desa,” cetus Gunawan.

Apalagi saat Hajat Lembur. Kegiatan mengumpulkan warga itu memancing para pelaku usaha berdatangan. “Ada penjual cilok, telur gulung, hingga minuman dingin,” sambung Gunawan.

Gunawan menambahkan, kebun kopi di desanya tidak hanya menjadi sarana edukasi, tapi juga menghasilkan produk. Kopi-kopi yang telah dipanen juga diolah untuk bisa dijual. Itu bisa menjadi salah satu oleh-oleh bagi wisatawan.

Masih kata Gunawan, dalam pengelolaan Desa Wisata, pihaknya tentu melibatkan para warga. Utamanya muda-mudi kampung tersebut. Mereka ikut menjadi tour guide hingga pengelola media sosial. “Ke depan ini bukan hanya jadi arena pembelajaran pemuda, tapi juga ladang pekerjan baru di kampung halaman,” bebernya.

Angin Segar Dukungan Bank Indonesia

Gunawan bukan pakar atau akademisi di bidang pariwisata. Awalnya ia banyak belajar mandiri dalam mengelola Desa Wisata. Namun perlahan dukungan dan bantuan mulai mengalir. Salah satunya dari Bank Indonesia.

Tim Pendamping dari Bank Indonesia Slamet Rianto menceritakan, pihaknya mulai masuk ke Desa Mekarlaksana pada 2024. “Kami hadir untuk membantu dalam pemberdayaan Desa Wisata,” katanya saat ditemui di sela Hajat Lembur, Sabtu (11/10).

0 Komentar