Hajat Lembur jadi Denyut Nadi Pariwisata Desa Mekarlaksana, Cerita dari Perbatasan Bandung-Garut

TRADISI : Desty dan Kharisma saat mengiringi perjalanan Kirab Budaya dalam Hajat Lembur Tegalhareueus Desa Mek
TRADISI : Desty dan Kharisma saat mengiringi perjalanan Kirab Budaya dalam Hajat Lembur Tegalhareueus Desa Mekarlaksana, Sabtu (11/10). (Hendrik)
0 Komentar

Pemerintah daerah kemudian mengupayakan program sertifikat tanah. Dan tepat 10 Oktober 2010 itu warga menerima sertifikat secara masal. Karenanya, kemudian warga menggelar syukuran dengan makan bersama.

“Kalau dulu hanya tawasulan lalu makan bersama. Tapi digelar di rumah masing-masing sepanjang jalan ini. Jadi makna dari Hajat Lembur itu adalah memanjatkan rasa sukur kepada tuhan atas hasil bumi termasuk sertifikat tanah,” cetusnya.

Gunawan melanjutkan, Hajat Lembur itu berjalan beberapa tahun setelah 2010. Namun sempat vakum pada 2013 hingga 2022. Alasannya karena kesibukan warga dan pandemi kala itu.

Baca Juga:Yayasan Kasih Palestina Siap Bangun Kembali Masjid Istiqlal Indonesia di GazaBabatuRun 2025: Saat Lari Jadi Bahasa Kebaikan di Kota Bandung

Lalu di 2022 Pemerintah Desa mencanangkan pembentukan Desa Wisata. Karena itulah, tradisi Hajat Lembur ini dihidupkan lagi. Niatnya tidak hanya untuk pelestarian tradisi tapi juga untuk bisa menjadi salah satu ikon Desa Wisata. Hajat Lembur yang biasanya dilaksanakan di rumah masing-masing kini dipusatkan di satu lokasi. Dan dipoles dengan beberapa kegiatan agar lebih menarik. “Kami ingin ini (Hajat Lembur.red), bisa menjadi salah satu ikon,” cetus Gunawan.

Budaya dan Kehidupan Warga jadi Pesona

Desa Mekarlaksana tidak memiliki pantai indah atau danau yang menawan. Ataupun situs bersejarah yang sudah pasti menjadi magnet wisatawan. Gunawan dan Pemerintah Desa berfikir keras untuk bisa mewujudkan Desa Wisata. Hingga bersepakat bahwa kultur dan keseharian wargalah yang diangkat menjadi pesona.

Desa dengan luas 6,31 kilometer persegi itu ada di ketinggian sekitar 1100 mdpl. Bentang alamnya di dominasi bukit dan lembah. Tak heran jika perjalanan menuju desa itu akan banyak melintasi jalan menanjak dan berkelok. Di kanan kiri jalan terlihat jelas ladang-ladang warga. Termasuk Gunung dan bukit yang berdiri megah.

Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), Desa yang berjarak 49 kilometer dari pusat Kabupaten Bandung itu dihuni 4.294 laki-laki dan 4.041 perempuan pada 2024. Pekerjaan mayoritas adalah petani dan peternak.

Kegiatan sehari-hari warga dalam bertani dan berternak itulah yang kemudian dipoles untuk menjadi jadi ikon Desa Wisata. “Yang dijual ya keseharian masyarakat,” kata Gunawan.

Gunawan menguraikan, di desanya wisatawan yang berkunjung bisa menikmati sensasi menjadi warga asli. Wisatawan diajak untuk belajar menanam kopi, sayur, dan aneka olahan bumi lain. Lalu juga edukasi terkait peternakan.

0 Komentar