JABAR EKSPRES – Kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Cimahi masih menunjukkan tren mengkhawatirkan.
Dalam kurun Januari hingga September 2024, sedikitnya 56 kasus tercatat oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi.
Ironisnya, mayoritas kasus berupa kekerasan seksual, dan sebagian besar pelakunya berasal dari lingkungan terdekat korban, mulai dari anggota keluarga, tetangga, hingga tenaga pendidik.
Baca Juga:Pedagang Pasar Atas Cimahi Serbu Layanan Cek Kesehatan Gratis Polres CimahiAntisipasi Sesar Lembang, BPBD Cimahi Tingkatkan Status Siaga dan Siapkan EWS Baru
Fenomena ini membuat Cimahi berada dalam situasi yang disebut oleh Kepala DP3AP2KB Kota Cimahi, Fitriani Manan, sebagai “darurat kekerasan seksual.”
“Mengantisipasi maraknya kekerasan seksual, Pemkot Cimahi membentuk Satgas Pencegahan di Satuan Pendidikan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan,” ujarnya kepada Jabar Ekspres baru-baru ini.
Melalui satuan tugas tersebut, guru di sekolah dapat langsung melaporkan dugaan kekerasan kepada Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) untuk mendapatkan penanganan cepat dan terintegrasi.
Selain itu, DP3AP2KB juga secara rutin melakukan sosialisasi serta asesmen ke sekolah-sekolah untuk memperkuat pemahaman anak dan orang tua.
“Hasilnya, banyak anak maupun orang tua yang akhirnya berani melapor setelah mengetahui mekanisme dan hak perlindungan mereka,” tambah Fitriani.
Upaya pencegahan juga diperluas melalui Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di tingkat kelurahan, serta Forum Generasi Berencana (Genre) yang berperan sebagai pendamping sebaya di kalangan remaja SMP dan SMA.
“Untuk anak-anak TK dan SD, kami ajarkan secara sederhana mengenai kesehatan reproduksi dan batasan tubuh. Minimal anak tahu mana bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain. Dengan begitu, mereka berani bercerita kepada ibunya jika mengalami sesuatu,” jelas Fitriani.
Baca Juga:Mayoritas Pelaku Kekerasan Seksual di Cimahi dan Bandung Barat Adalah Orang DekatRereongan Sapoe Sarebu Siap Diterapkan di Cimahi, Ngatiyana: Kita Mulai dari ASN Dulu
Namun, menurut Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB Cimahi, Neneng Mastoah, tantangan terbesar bukan hanya pada penanganan, tetapi pada pencegahan dan perubahan perilaku sosial.
“Untuk menurunkan tingkat kekerasan, semua pihak harus terlibat, baik instansi pemerintah, lembaga pendidikan, maupun masyarakat,” ungkap Neneng saat ditemui Jabar Ekspres di Cimahi, Rabu 8 Oktober 2025.
