Mayoritas Pelaku Kekerasan Seksual di Cimahi dan Bandung Barat Adalah Orang Dekat

Kasus Kekerasan Seksual Anak di Bandung Barat Meningkat, Pelaku Didominasi Orang Terdekat
Ilustrasi: stop lakukan kekerasan pada anak. Dok Pixabay
0 Komentar

JABAR EKSPRES — Kota Cimahi tengah menghadapi situasi darurat kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak. Sepanjang Januari hingga September 2024, sedikitnya tercatat 56 kasus kekerasan, sebagian besar berupa kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang terdekat korban.

Ironisnya, pelaku kerap berasal dari lingkungan terdekat, mulai dari anggota keluarga, tetangga, hingga guru. Kondisi ini mencerminkan rusaknya ekosistem perlindungan anak di tingkat keluarga dan masyarakat.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi, Fitriani Manan, menegaskan bahwa tren ini merupakan sinyal darurat sosial yang tidak bisa diabaikan.

Baca Juga:Love Scamming Jadi Ancaman Baru, Kekerasan Seksual di Cimahi Didominasi Orang TerdekatKasus Kekerasan Seksual Anak di Bandung Barat Meningkat, Pelaku Didominasi Orang Terdekat

“Sebetulnya kalau saya katakan, Indonesia saat ini mengalami kegawatan, kedaruratan seksual. Kasus kekerasan seksual memang meningkat, dan biasanya pelaku itu orang terdekat. Bisa keluarga, paman, kakek, guru, penjaga sekolah, bahkan pemilik warung tempat anak-anak jajan,” ujarnya saat diwawancarai Jabar Ekspres, Rabu (7/10/2025).

Selain kekerasan fisik, Fitriani mengingatkan adanya ancaman modus baru kekerasan berbasis digital, seperti love scamming atau penipuan berkedok percintaan melalui media sosial dan aplikasi kencan daring seperti Omi.

Love scamming itu cukup berbahaya. Anak-anak remaja perempuan, apalagi yang kecanduan media sosial, rawan jadi korban. Mengawasinya memang susah, tapi kami berkoordinasi dengan Diskominfo untuk membatasi akses ke situs pornografi dan aplikasi rawan,” tuturnya.

Namun Fitriani menegaskan, pengawasan digital saja tidak cukup tanpa keterlibatan aktif keluarga. Ia menyoroti menurunnya peran ayah dalam mendidik anak di rumah, yang berimbas pada lemahnya bimbingan moral dan emosional anak.

“Kadang peran ayah hilang, semua pendidikan anak diserahkan ke ibu. Padahal ibu juga sibuk bekerja atau urusan rumah tangga. Akhirnya anak mencari jawaban di internet dan terpapar situs-situs berbahaya,” tambahnya.

Fenomena serupa juga terjadi di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sepanjang Januari hingga September 2025, tercatat 87 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, naik signifikan dari 71 kasus pada tahun sebelumnya.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) DPPKBPPPPA KBB, Rini Haryani, menyebutkan bahwa tren peningkatan ini hanyalah “puncak gunung es” dari persoalan yang lebih besar.

0 Komentar