Tanggapi Sungai di Cimahi yang Tercemar, Ini Kata WALHI Jabar

Kondisi Sungai Cimahi yang Mulai Tercemar Limbah Domestik (Doc. Jabar Ekspres)
Kondisi Sungai Cimahi yang Mulai Tercemar Limbah Domestik (Doc. Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kondisi sejumlah Sungai yang melintasi Kota Cimahi kini berada dalam situasi kritis dan mengkhawatirkan.

Hasil uji laboratorium Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi pada tahun 2024 memperlihatkan tingkat pencemaran yang sangat tinggi, dengan kandungan bakteri Escherichia coli (E-coli) mencapai 10⁹ atau miliaran per satu cc air.

Angka tersebut melampaui batas normal yang hanya berkisar di 10³, menandakan kondisi air yang jauh dari layak konsumsi dan sangat berisiko terhadap kesehatan publik.

Baca Juga:Pastikan Keamanan Pangan, Gubernur Ahmad Luthfi Minta Pengawasan MBG DiperketatBikin Panik Tamu Hotel di Bandung, Macan Tutul Berhasil di Evakuasi Tim Gabungan

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) turut mengonfirmasi temuan serupa. Berdasarkan hasil pemantauan mereka, air di wilayah Cimahi kini dikategorikan sebagai ‘tercemar berat’

Faktor utamanya bukan hanya berasal dari limbah rumah tangga, tetapi juga limbah peternakan dan sebagian limbah industri yang mengalir langsung ke sungai tanpa melalui proses pengolahan.

Dengan kata lain, sungai yang ada di Cimahi kini telah menjadi cermin nyata kegagalan sistem pengelolaan lingkungan perkotaan.

Data Indeks Kualitas Air (IKA) menunjukkan tren penurunan yang tajam. Tahun 2022, Cimahi masih mencatat skor 34,58 lebih baik dari Bekasi yang hanya 28,39.

Namun pada 2023, skor tersebut turun drastis menjadi 22,5, dan di tahun 2024 anjlok hingga 14,76 dengan kategori merah.

Angka ini menunjukkan bahwa kualitas air Cimahi telah mencapai status darurat lingkungan yang memerlukan tindakan cepat dan sistemik.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat, Wahyudin Iwang menilai persoalan ini tidak bisa hanya disederhanakan sebagai akibat dari limbah domestik semata.

Baca Juga:Korban Keracunan Terus Bertambah, Satgas Pengawasan Baru DibentukBola Api dan Dentuman Keras di Langit Cirebon, BRIN: Meteor Besar

Ia menegaskan, pencemaran air di Cimahi adalah hasil dari kombinasi banyak faktor, mulai dari kegagalan tata kelola limbah hingga lemahnya penegakan hukum.

“Harusnya temuan KLH tersebut dapat disampaikan secara transparan, berapa tingkat pencemaran limbah rumah tangga dan non-rumah tangga. Faktanya, masih banyak industri dan limbah medis yang dibuang ke sungai secara langsung,” ujarnya saat dikonfirmasi Jabar Ekspres melalui pesan WhatsApp, Selasa (7/10/25).

Menurut Iwang, kesulitan utama dalam pengendalian limbah komunal di Cimahi berakar dari ketiadaan sistem pengelolaan sampah yang efektif di tingkat rumah tangga.

Pemerintah seharusnya emenyediakan tempat pemilahan sampah sementara, sehingga masyarakat tidak memiliki alternatif selain membuang sampah ke sungai.

0 Komentar