Tanggapi Sungai di Cimahi yang Tercemar, Ini Kata WALHI Jabar

Kondisi Sungai Cimahi yang Mulai Tercemar Limbah Domestik (Doc. Jabar Ekspres)
Kondisi Sungai Cimahi yang Mulai Tercemar Limbah Domestik (Doc. Jabar Ekspres)
0 Komentar

“Ketika sebagian besar warga menyandarkan sungai sebagai media pembuangan, itu menunjukkan lemahnya kesadaran yang justru dipicu oleh kegagalan pemerintah menyediakan sarana pemilahan sampah,” tegasnya.

Ia menambahkan, lemahnya kesadaran masyarakat, kurangnya infrastruktur sanitasi, dan minimnya pengawasan dari pemerintah daerah menjadi lingkaran masalah yang tidak pernah putus.

“Gagalnya penegakan hukum bagi pelaku industri yang terang-terangan membuang limbah tanpa sanksi tegas membuat kualitas air sungai terus memburuk. Ditambah lagi lemahnya sosialisasi dan edukasi dari pemerintah,” kata Iwang.

Baca Juga:Pastikan Keamanan Pangan, Gubernur Ahmad Luthfi Minta Pengawasan MBG DiperketatBikin Panik Tamu Hotel di Bandung, Macan Tutul Berhasil di Evakuasi Tim Gabungan

Data dari DPKP Kota Cimahi menunjukkan, lebih dari 20 ribu rumah di Cimahi belum memiliki septic tank. Kondisi ini memperparah pencemaran air tanah dan sungai, karena limbah domestik langsung meresap atau dialirkan tanpa pengolahan.

Menurut Iwang, sebelum membangun sistem baru, pemerintah harus memastikan validitas data agar penanganannya tepat sasaran.

“Sering kali data semacam ini tidak bisa dipertanggungjawabkan, sehingga penanganannya tidak pernah menyentuh akar masalah,” jelasnya.

WALHI melihat urgensi pembangunan sistem sanitasi terpadu yang bukan hanya menyoroti aspek infrastruktur, tetapi juga perilaku masyarakat.

“Jika memang faktor utama pencemaran berasal dari limbah domestik, maka pembangunan sanitasi terpadu wajib dijalankan pemerintah. Tidak bisa terus berdalih soal keterbatasan anggaran,” ujarnya.

Selama ini, isu pencemaran di Cimahi selalu dikaitkan dengan aktivitas industri. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa dominasi sumber pencemaran kini beralih ke limbah rumah tangga.

Iwang menilai, hal ini menjadi sinyal perubahan pola masalah lingkungan perkotaan yang membutuhkan kebijakan baru dan pendekatan berbeda.

Baca Juga:Korban Keracunan Terus Bertambah, Satgas Pengawasan Baru DibentukBola Api dan Dentuman Keras di Langit Cirebon, BRIN: Meteor Besar

“Kesadaran masyarakat memang menjadi kunci utama, tapi harus diimbangi dengan pelayanan pemerintah yang memadai. Jika pencemaran septic tank sudah akut, maka regulasi dan penertiban paralon-paralon yang menjulur ke sungai harus dilakukan secara konsisten,” tambahnya.

Lebih jauh, Iwang menyoroti kaitan erat antara pencemaran lingkungan dengan isu kesehatan publik, termasuk stunting pada anak.

“Jika angka stunting meningkat, itu menandakan kualitas lingkungan memburuk. Artinya, aspek lingkungan harus diperbaiki secara serius,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan, pola konsumsi masyarakat perlu diperhatikan karena bahan pangan saat ini banyak yang tercemar zat kimia, memperburuk kondisi kesehatan generasi muda.

0 Komentar