PR Berat Pengolahan Limbah Domestik di Cimahi, 20 Ribu Rumah Masih Tanpa Septictank

PR Berat Pengolahan Limbah Domestik di Cimahi, 20 Ribu Rumah Masih Tanpa Septic Tank
Kepala DPKP Kota Cimahi, Endang saat ditemui Jabar Ekspres di ruang kerjanya. (Mong/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Persoalan pengolahan limbah domestik masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Kota Cimahi. Hingga 2025, tercatat sekitar 20.548 rumah dari total 122.307 rumah di Cimahi masih belum memiliki septictank.

Alhasil, sebagian warga terpaksa membuang limbah rumah tangga langsung ke sungai atau meresapkannya ke tanah. Kondisi ini dinilai berbahaya karena berpotensi menimbulkan pencemaran, penyebaran bakteri, hingga mengancam kesehatan masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi, Endang, saat ditemui Jabar Ekspres di ruang kerjanya, Senin (29/9/2025).

Baca Juga:Pencemaran Air Cimahi Didominasi Limbah Rumah Tangga, Ancaman Kesehatan MengintaiKualitas Air Cimahi Memburuk, DLH Tegaskan Limbah Domestik Jadi Penyumbang Utama Pencemaran

“Kebanyakan masyarakat ini masih mengalirkan pembuangan limbah domestiknya langsung ke sungai atau dibuang ke dalam tanah. Tentunya ini sangat berbahaya bagi kesehatan, terutama terkait penyebaran bakteri ecolli yang dampaknya bisa sangat luas. Bahkan salah satu agenda besar kita adalah kaitannya dengan masalah stunting,” ujar Endang.

Sejak 2024, Pemkot Cimahi telah membangun sekitar 152 septictank komunal ditambah sejumlah septictank individu, MCK, dan fasilitas lain. Hingga kini, program itu baru menyentuh 12.157 rumah.

Tahun 2025, Cimahi kembali mendapat suntikan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat untuk membangun septictank di 14 kelurahan (minus Cipageran), mencakup hampir 800 rumah.

“Kita juga akan bangun dari APBD Cimahi. Tahun ini alhamdulillah ada sekitar 124 rumah yang akan kita bangunkan septictank melalui APBD,” ungkapnya.

Adapun anggaran yang dikucurkan mencapai Rp7,1 miliar dari DAK dan Rp1,9 miliar dari APBD.

Meski begitu, program ini tak berjalan mulus. Menurut Endang, masih ada warga yang menolak dibangunkan septictank karena menganggap air limbah sebagai sesuatu yang kotor dan menimbulkan bau.

Selain itu, keterbatasan lahan di rumah warga berpenghasilan rendah juga menjadi kendala.

Baca Juga:Sungai Cimeta di Padalarang Mendadak Dipenuhi Busa Putih, DLH Selidiki Dugaan Pencemaran LimbahDLH Bandung Temukan Pencemaran Berat di Sungai, Jejak Limbah Tinja Jadi Sorotan

“Masyarakat kita banyak yang masih menggunakan air sumur. Kalau limbah dibuang ke tanah, sumurnya bisa tercemar. Setelah kita jelaskan manfaatnya, akhirnya mereka paham. Hanya saja, rumah yang tergolong sempit membuat mereka kesulitan menentukan titik pemasangan,” jelasnya.

Untuk menjawab kendala itu, pemerintah menggunakan teknologi septictank modern berbahan fiber yang lebih kedap air, praktis, dan bisa dipasang di berbagai lokasi.

0 Komentar