DLH Bandung Temukan Pencemaran Berat di Sungai, Jejak Limbah Tinja Jadi Sorotan

DLH Bandung Temukan Pencemaran Berat di Sungai, Jejak Limbah Tinja Jadi Sorotan
Warga beraktivitas di dekat aliran sungai di kawasan Tamansari, Kota Bandung, Senin (28/7). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES — Kondisi kualitas air sungai di Kota Bandung masih jauh dari harapan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung melaporkan bahwa sepanjang tahun 2024, tingkat pencemaran air sungai menunjukkan tren yang mengkhawatirkan dan belum mengalami perbaikan berarti.

Kepala DLH Kota Bandung, Darto, menjelaskan bahwa pihaknya secara berkala melakukan pemantauan kualitas lingkungan dengan mengacu pada tiga indikator utama: kualitas udara, air, dan lahan.

Dalam hal ini, sorotan khusus diberikan pada kualitas air sungai sebagai sumber daya penting yang semakin terancam.

Baca Juga:Pemkot Bandung Terima Kunjungan Delegasi Kedutaan Polandia, Bahas Kerja Sama Pengadaan Kereta ListrikDukung Swasembada Pangan, Pemerintah Percepat Pembangunan Bendungan Cijurey di Bogor

“Pengukuran dilakukan dari hulu hingga hilir, dan posisi Kota Bandung yang berada di tengah aliran sungai membuatnya sangat terdampak. Dari dua kali pengukuran yang kami lakukan sepanjang tahun ini, indeks kualitas air masih rendah dan belum menunjukkan hasil optimal,” jelas Darto saat ditemui di Balai Kota Bandung, Senin (28/7).

Temuan paling signifikan yang diungkap DLH adalah adanya pencemaran serius yang bersumber dari limbah tinja, baik manusia maupun hewan. Meski tidak membeberkan lokasi secara spesifik, Darto menyebut setidaknya ada dua titik yang masuk kategori pencemaran berat.

“Dari hasil pengujian, kadar total coliform sangat tinggi. Ini menjadi indikator utama bahwa ada pencemaran yang berasal dari aktivitas domestik dan peternakan. Air sungai di titik-titik ini sudah tidak aman, bahkan hanya untuk bermain anak-anak,” ungkapnya.

Selain coliform, parameter lain seperti pH (tingkat keasaman) dan kandungan mikroorganisme juga menunjukkan angka yang berada di luar ambang batas aman, menandakan penurunan kualitas air yang cukup parah.

Namun, Darto menekankan bahwa perbaikan tidak bisa dilakukan secara sepihak. Mengingat sungai mengalir melewati beberapa wilayah administratif, diperlukan upaya bersama antar daerah untuk menangani permasalahan ini secara menyeluruh.

“Kalau kita bersihkan hanya di Bandung, tapi di hulu daerah lain tidak ada tindakan, hasilnya tidak akan maksimal. Jadi perlu ada kerja sama lintas daerah untuk mengatasi ini,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah pencemaran hanya terjadi di Sungai Cikapundung, Darto menepis anggapan tersebut. Ia menegaskan bahwa pencemaran terjadi di lebih dari satu sungai, meski jumlah pasti masih belum dapat dipublikasikan.

0 Komentar