JABAR EKSPRES – Kementerian Perdagangan (Kemendag) belum lama ini telah mendapatkan tambahan anggaran untuk 2026, sebesar Rp586,63 miliar. Penambahan anggaran tersebut rencananya akan dialokasikan untuk belanja operasional dan nonoperasional Kemendag.
Diketahui, tambahan anggaran itu didapatkan setelah disetujui Komisi VI DPR RI pada Rapat Kerja (Raker) bersama Kemendag, dengan agenda Pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA).
Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso mengatakan, pada prinsipnya anggaran yang sudah ada dimanfaatkan dan dioptimalisasi secara maksimal.
Baca Juga:Program Studi S1 Bisnis Digital Universitas Bhakti Husada Indonesia: Menjawab Tantangan Era Revolusi IndustriLindungi Industri Gula Nasional, Wamentan Dorong Pembatasan Impor Etanol
“Semua anggaran yang ada termasuk tahun depan, dengan program-program yang memang sudah kita siapkan ya,” katanya saat ditemui di Tanjungsari, Sumedang pada Rabu (17/9).
“Insyaallah kita dapat menjalankan semua tugas, programnya dengan baik,” tambah Budi.
Dia menjelaskan, dalam memanfaatkan penambahan anggaran tersebut, pihaknya sudah menyiapkan tiga program untuk digaungkan.
Tiga program itu, ujar Budi, yakni pengamanan pasar dalam negeri, kemudian perluasan pasar ekspor dan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) bisa ekspor.
“Ya ketiga-ketiganya ini sebenarnya kita ngomongin pasar ya. Kalau pengembangan pasar dalam negeri, pasar kita yang besar ini bagaimana bisa diisi oleh industri dalam negerinya,” ujar Mendag.
Budi menerangkan, adapun untuk caranya, produk-produk dalam negeri harus mempunyai kualitas agar memiliki nilai jual, sehingga dapat bersaing dengan produk asing.
“Kalau produk kita bagus, asing pun juga gak bisa masuk. Jadi kembali ke kita semua,” terangnya.
Baca Juga:Naik 22 Persen, Komisi IV DPR Setujui Anggaran Kemenhut 2026 Sebesar Rp6,04 Triliun Menkeu Turunkan Suku Bunga Jadi 2 Persen, Dorong Pembiayaan Koperasi Merah Putih
Sedangkan untuk upaya perluasan pasar ekspor, ucap Budi, pihaknya akan semakin banyak mengembangkan pasar-pasar baru.
“Kita sekarang sudah banyak mempunyai perniagaan dagang ya. Sekarang tahun ini kita sudah menyelesaikan beberapa penghubungan,” ucapnya.
Dipaparkan Budi, di antaranya Indonesia-Kanada-SEPA, Komisia Indonesia BTE, dan juga Indonesia-Peru-SEPA, yang sudah ditandatangani per 11 Agustus 2025 lalu.
“Program ketiga adalah UMKM bisa ekspor. Jadi kita ingin UMKM kita itu naik kelas ya,” paparnya.
Menurut Budi, jika UMKM bisa ekspor dari sisi kualitas, dia menilai produk lokal juga sudah bisa memiliki standar yang dapat bersaing dengan asing.
Dia menambahkan, sekarang ini banyak produk UMKM dalam negeri yang sudah masuk ke retail modern.
