JABAR EKSPRES – Lampu sorot Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) bersinar gelap di langit sore, Jumat (12/9/2025). Di tengah gemuruh chant ribuan bobotoh, seorang pemain baru berdiri di pinggir lapangan. Nama punggungnya: Eliano Reijnders. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menyala. Eliano Reijnders bersiap menandai langkah pertamanya di sepak bola Indonesia.
Menit ke-59, pelatih Bojan Hodak memanggil namanya. Ia menggantikan Kakang Rudianto. Dan saat kakinya menginjak rumput GBLA, Eliano resmi menjalani debutnya bersama Persib Bandung, klub yang kini menjadi rumah barunya, jauh dari Eropa.
Masuk di tengah laga panas melawan Persebaya Surabaya, Eliano tidak datang hanya untuk mengisi menit bermain. Ia datang membawa energi baru. Bermain di sisi kiri, mantan pemain FC Zwolle ini langsung tampil agresif, mobile, dan penuh percaya diri.
Baca Juga:PT GAG Nikel Kembali Beroperasi, Penyelesaian Tambang di Raja Ampat Hanya Omon-Omon?Menkeu Tarik Rp200 Triliun dari BI untuk Suntikan Dana Himbara, Solusi Percepat Perputaran Ekonomi?
Ia tak ragu melakukan tekel, menutup ruang, hingga membantu build-up serangan. Wajahnya mungkin baru, tapi gayanya seperti pemain yang sudah lama berseragam biru.
“Senang bisa bermain. Saya sangat menantikan pertandingan selanjutnya, terlebih bisa tampil di AFC Champions League Two,” ucap Eliano dengan nada puas usai laga.
Eliano Reijnders bukan tipikal pemain yang menunggu arahan untuk bergerak. Ia dikenal sebagai pemain versatile, mampu bermain di banyak posisi bek, gelandang, bahkan winger.
Dan saat diminta bermain di pos kiri Maung Bandung, ia melakukannya dengan sepenuh hati. Lari cepat, umpan pendek, duel satu lawan satu, semua dijalani tanpa canggung.
Nama Reijnders sudah dikenal dalam dunia sepak bola Eropa. Tijjani Reijnders, kakaknya, kini jadi andalan di Manchester City dan Timnas Belanda. Tapi Eliano memilih jalan berbeda, meninggalkan zona nyaman dan menjajal tantangan baru di Asia Tenggara.
Bandung adalah petualangan barunya. Persib adalah panggung barunya.
“Gaya main di sini berbeda. Lebih cepat, banyak transisi, kadang terlalu terbuka. Di Eropa lebih banyak menunggu momen, lebih taktis. Tapi ini menarik dan menantang. Saya harus cepat adaptasi,” ujarnya, membandingkan gaya sepak bola Indonesia dan Belanda.
