JABAR EKSPRES – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Bandung menegaskan komitmennya untuk memperluas pembangunan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar menyebar merata, mulai dari kawasan perkotaan hingga ke pelosok daerah.
Ketua Kadin Kabupaten Bandung, Boni Anggara, mengatakan pihaknya ingin memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat diakses oleh semua anak, termasuk mereka yang tinggal di wilayah terpencil.
“Alhamdulillah ini adalah dapur binaan Kadin yang ke-17. Insyaallah berjalan lancar. Kami sudah mulai beroperasi sejak 1 September kemarin dan hari ini baru peresmiannya,” ujar Boni saat meresmikan Dapur SPPG di Baleendah, Selasa (9/9/2025).
Baca Juga:Pastikan Kepatuhan Proses Halal, BPJH Berencana Inpeksi Pabrik Nampan MBG di China Percepat Program MBG di Jateng, Pembangunan SPPG Terus Ditambah
Menurutnya, penentuan lokasi dapur SPPG tetap mengacu pada mekanisme Badan Gizi Nasional (BGN).
“Tentunya ada wilayah terpencil yang ditargetkan. Tapi untuk approving lokasi tetap ada sistem yang berwenang sesuai ketentuan dari BGN,” jelasnya.
Boni menegaskan, Kadin Kabupaten Bandung sudah memiliki 25 dapur binaan dengan target menguasai 50 persen pengelolaan MBG di daerah.
“Harapan kami, dapur SPPG bisa tersebar merata. Kalau ada yang sudah punya titik tapi terkendala modal, Insyaallah akan kami bina dan kami injeksi dananya,” katanya.
Lebih jauh, ia mengungkapkan satu dapur SPPG bisa menyiapkan hingga 4.000 porsi per hari, menyesuaikan dengan kebutuhan gizi setiap jenjang pendidikan.
“Untuk PAUD, TK, SD, hingga SMA porsinya berbeda. Ada juga yang menyesuaikan tekstur makanan untuk balita. Ibu hamil dan menyusui pun sudah mendapatkan hak gizinya sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG 2019),” terangnya.
Boni juga menyebutkan, selain untuk pemenuhan gizi anak sekolah, keberadaan dapur SPPG turut berdampak pada ekonomi lokal.
Baca Juga:Butuh 82 Titik Dapur MBG, Pemkot Bogor Siapkan Penambahan SPPGOptimalkan Fasilitas Publik, Pemkab Bandung Siapkan 3 Lokasi SPPG untuk Dukung Program MBG
“Kami melibatkan UMKM sekitar dapur. Bahan baku sebisa mungkin dari supplier lokal. Bahkan kami punya koperasi untuk menaungi para pemasok agar ekonomi masyarakat ikut berputar,” ungkapnya.
Dari sisi keamanan pangan, Kadin menekankan pentingnya pengawasan ahli gizi agar dapur bebas dari risiko keracunan.
“Ahli gizi berperan penting dalam pemilihan menu dan pengawasan. Bahan baku disortir ketat, dapur harus bersih 24 jam, dan karyawan dipastikan sehat. Itu kunci agar makanan terjamin aman dan bergizi,” pungkas Boni.
