Kematian Ilham di Rumah Terapi Pangandaran Sarat Kejanggalan, Keluarga Curiga Ada Kekerasan

Ilustrasi satu orang meninggal dunia (Dok. Pixabay)
Ilustrasi satu orang meninggal dunia (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Misteri menyelimuti kematian Muhammad Ilham (26), warga Kabupaten Bandung Barat (KBB), setelah tubuhnya dipulangkan dari sebuah rumah terapi kejiwaan di Pangandaran dalam kondisi penuh luka.

Alih-alih mendapat kesembuhan, Ilham justru pulang dalam peti mati, memunculkan dugaan kuat adanya tindak kekerasan di balik kematiannya.

Perjalanan tragis ini bermula pada 7 Mei 2025, ketika keluarga sepakat membawa Ilham ke Rumah Solusi Himatera Indonesia di Pangandaran. Keluarga berharap Ilham mendapat penanganan lebih baik dibanding pengobatan jalan di RSJ Cisarua, Bandung Barat.

Baca Juga:Belum Selaras! Ekonomi Tumbuh Tapi Pengangguran di Jabar TertinggiPGN Pasok Gas Bumi ke RS Kariadi Semarang, Efisiensi Operasional Meningkat Hingga 60 Persen

Namun sejak Ilham berada di rumah terapi, keluarga kehilangan akses komunikasi. Mereka tidak diperkenankan menelpon ataupun menjenguk langsung. Semua informasi hanya bisa diperoleh melalui pengurus rumah terapi.

“Ilham makin kurus, terakhir kami dengar dia bahkan tidak diberi makan nasi sejak 27 Juli,” tutur Ela Rosala (33), kakak ipar korban, saat dikonfirmasi, Senin (8/9/2025).

Kabar mengejutkan datang pada Kamis sore, 21 Agustus 2025 lalu. Pihak rumah terapi memberi tahu bahwa Ilham mengeluh sakit dada dan hendak dibawa ke rumah sakit. Namun, hanya beberapa jam kemudian, Jumat dini hari pukul 04.00 WIB, keluarga mendapat kabar bahwa Ilham telah meninggal dunia.

Saat tiba di Pangandaran, keluarga mendapati jenazah masih berada di rumah terapi, bukan di rumah sakit sebagaimana diklaim pihak pengelola. Lebih mencurigakan lagi, tidak ada surat keterangan kematian dari fasilitas medis mana pun.

“Kami langsung curiga. Kalau memang dibawa ke rumah sakit, harusnya ada surat kematian resmi. Tapi mereka tidak bisa tunjukkan apa-apa,” ungkap Ela.

Setiba di rumah duka di Bandung Barat, keluarga kian terkejut. Meski sudah dikafani, darah tampak mengalir dari telinga korban. Saat kain kafan dibuka, terlihat mata lebam, telinga membiru, tubuh kurus kering, bahkan ada bekas sundutan rokok di kaki.

“Kami kaget dan terpukul. Ini bukan kematian biasa. Ada sesuatu yang disembunyikan,” kata Ela.

Baca Juga:BAZNAS Jabar Luncurkan Program Pendayagunaan untuk Tingkatkan Kesejahteraan MasyarakatAcil Bimbo Tutup Usia, Bandung Berduka Kehilangan Putra Terbaiknya

Autopsi di RS Sartika Asih, Bandung, justru mengungkap fakta mengejutkan. Dokter forensik menyebut Ilham diperkirakan sudah meninggal lebih dari satu minggu sebelum pihak rumah terapi mengabarkan kematiannya.

0 Komentar