“Kalau benar begitu, berarti selama lebih dari seminggu mereka menyembunyikan jasad adik saya,” ujar Ela dengan nada geram.
Kasus ini kemudian dilaporkan keluarga ke Polda Jawa Barat. Namun, penanganan kini dilimpahkan ke Polres Pangandaran. Hingga saat ini, pihak keluarga masih menunggu perkembangan hasil penyelidikan.
“Kami menuntut keadilan. Jangan sampai ada keluarga lain yang mengalami nasib serupa. Ini harus diusut sampai tuntas,” tegasnya.
Baca Juga:Belum Selaras! Ekonomi Tumbuh Tapi Pengangguran di Jabar TertinggiPGN Pasok Gas Bumi ke RS Kariadi Semarang, Efisiensi Operasional Meningkat Hingga 60 Persen
Meski Muhammad Ilham mengalami gangguan kejiwaan, keluarga menggambarkan ia sebagai sosok yang rajin dan bisa berinteraksi dengan baik.
“Ilham itu anaknya baik. Kalau di rumah, dia bantu bertani jagung, ubi. Dia gak ngelantur. Kalau diajak ngobrol masih nyambung, kadang bercanda juga,” tuturnya.
Ia menegaskan, keluarga bisa menerima bila Ilham meninggal karena sakit. Namun, kondisi jasad yang penuh luka membuat mereka sulit mengikhlaskan.
“Kalau dia mati karena sakit, saya bisa ikhlas. Tapi kalau lihat badannya begitu, saya tidak bisa terima. Ini jelas ada yang tidak beres,” katanya.
Bagi keluarga, kematian Ilham masih menyisakan tanda tanya besar. Mereka yakin ada hal yang ditutup-tutupi oleh pihak rumah terapi.
“Nyawa adik saya sudah tidak bisa kembali. Tapi jangan sampai ada korban lagi. Polisi harus benar-benar membongkar kasus ini,” tandasnya. (Wit)
